Dahulu aku pernah berkata. Aku menyukai. Aku kamu ingini. Kamu hanya akan denganku. Dahulu aku mengira. Dunia mudah aku kendalikan. Angin bisa aku hentikan. Dan cinta sesuai dugaan. Supaya kamu menebar senyuman.... I Ha ha! Kebodohan adalah pintu sebuah penyesalan Dahulu aku bermain dan berdansa dengan semua jenis kebodohan Sampai terperangkap di dalam sebuah gudang penistaan Karenanya, kamu aku kenal melalui fase pergaulan II Jiwa muda jiwa tak kenal lelah sekaligus buta arah Dahulu aku merasa tenang untuk kesana, ternyata sadar itu adalah salah Mungkin aku menanam benih janji di depan halaman rumahmu Yang ternyata, kamu dapati tak pernah tumbuh hingga saat ini meski kamu terus menunggu dan menyiraminya dengan harapan disertai dengan pupuk kerinduan Kamu ingin kepastian III Angin menggiring jiwaku menuju arah kedewasaan Aku tahu, dahulu kita ingin menyatu Seperti buku-buku yang telah berpadu Namun, itu semua hanyalah warna yang semu Dan akhirnya, kamu menutup ...
Lelaki biasa; bukan ekspatriat.