(a pict shoot by Fujica M1 with Kodak Gold 200)
Mencintai Allah dan Rasul-Nya merupakan kewajiban setiap insan yang beriman dan bertaqwa. Bahkan rasa cinta kita kepada rasul pun harus lebih besar daripada kecintaan kita kepada ibu kita sendiri, bukan? Apalagi, kecintaan kita kepada Sang Maha Pencipta jagat raya ini, harus melebihi kecintaan kita dari segala apa pun termasuk diri kita sendiri. Karena sholat kita, pengorbanan kita, hidup kita, dan mati kita hanyalah karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak kepada selain-Nya.
Harus kita ketahui bahwasannya kita adalah manusia yang lemah, tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun, kecuali daya dan kekuatan itu diberikan atas ijin Allah subhanahu wa ta’ala, termasuk ketidakmampuan kita untuk menangkap sebuah hakikat dari sesuatu yang ada; seperti hakikat cinta misalnya. Banyak sekali orang yang menjelaskan tentang hakikat sebuah cinta. Saling melahirkan sebuah definisi dan deskripsi tentang cinta, yang kemudian penjelasan tentang cinta ini menjadi sangat beragam. Keadaan seperti ini mengakibatkan kita sulit untuk menetapkan yang manakah penjelasan sesungguhnya atau hakikat dari cinta itu sendiri? Hal yang selalu jadi sorotan bahkan sering mengundang perdebatan ketika para remaja masa kini melakukan perbuatan yang dikenal sebagai 'pacaran' dengan mengatasnamakan cinta.
Pacaran sudah bukan menjadi hal yang aneh lagi di tengah-tengah kehidupan kita saat ini, bahkan sebagian kita menganggapnya sebagai hal yang biasa. Ada pun pengertian dari pacaran sendiri menghasilkan definisi yang berbeda-beda, bergantung pada siapa yang mendefinisikannya, hampir mirip halnya dengan pengertian dari cinta itu tadi. Hal ini menjadikan pacaran itu relatif, tidak ada acuan yang absolut mengenai apa itu pacaran. Akan tetapi mari kita lihat saja pada fakta dan kenyataan yang terjadi di kehidupan kita yang sebenarnya, lebih sering pacaran yang kita jumpai yakni hubungan secara khusus yang terjalin antara sepasang lelaki dan perempuan belum menikah atas dasar cinta atau saling suka menyukai kepada lawan jenisnya tersebut. Entah bagaimana tata cara supaya status pacaran itu kemudian resmi melekat kepada sepasang kekasih tersebut.
Jika sudah resmi menyandang status pacaran, maka akan ada banyak hal yang bisa terjadi ketika hubungan ini sudah terjalin. Yang sering terjadi adalah, interaksi yang dilakukan dengan si lawan jenis jadi semakin sering dilakukan entah siang atau pun malam hari, baik interaksi secara langsung atau pun tidak, bertemu dan saling mengobrol atau hanya berbalas pesan via media sosial walau hanya sekedar chatting saja, pokoknya interaksi dengan sang kekasih semakin giat dilakukan. Sekurang-kurangnya inilah yang dilakukan oleh mereka yang mengaku berpacaran. Ada pun selebihnya, itu akan diketahui oleh mereka para pelaku pacaran dan malaikat yang berada di kedua pundaknya. Apakah kamu juga mengetahuinya?
Seiring berjalannya waktu maka keadaan semakin berubah. Telah lahir sebuah kata baru yang semakin mengacaukan dari sebuah makna, belakangan ini sering kita dengar opini dengan sebutan ‘Pacaran Islami’ yang semakin lama akan semakin terngiang di benak kita para remaja muslim, dan secara otomatis akan mengubah pola pikir kita yang seolah-olah ada dalil yang merestui bahwa pacaran dalam islam itu memang betul adanya dengan menggunakan kata pacaran islami tersebut. Entah siapa yang memulai sehingga timbul perkataan macam ini di tengah-tengah kita. Dan ini merupakan sebuah fakta yang terjadi saat ini, dengan dalih bahwa jika pacaran islami dapat meningkatkan semangat beribadah kita kepada Allah, semangat dalam belajar dan menuntut ilmu, atau semangat dalam menghafal Al-Qur’an, dan macam-macam yang dianggap sebagai manfaat dari pacaran islami ini.
Sebagai seorang muslim, kita harus meyakini Al-Qur’an & As-Sunnah adalah pedoman untuk hidup di dunia ini, serta bisa juga untuk menentukan bagaimana sikap kita dalam menghadapi berbagai macam permasalahan yang terjadi. Maka disini kita ingin mendapatkan informasi tentang bagaimana status pacaran ini, benarkah ada pacaran islami? Bagaimana jika kita melakukannya, apakah berdosa ataukah tidak?
Wahai saudara dan saudariku seiman dan seakidah!
Dari kalimat pacaran islami saja sebetulnya kita sudah dapat mengetahui kesimpulan dan maknanya. Perlu kita perhatikan bahwa pacaran dan islami adalah dua kata yang berbeda, bukan? Maka mudah saja bagi kita untuk menyimpulkan kalimat tersebut. Pacaran dapat didefinisikan oleh siapa pun, namun yang perlu kita pahami adalah pacaran yang terjadi saat ini di kehidupan kita adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, maka hampir dipastikan kelakuan tersebut merupakan pintu atau sebab-sebab seseorang melakukan perzinahan yang mana sangat dimurkai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Sedangkan pada kata islami umumnya adalah apa-apa yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad dan telah disyariatkan oleh islam; seperti berpakaian islami, menikah islami, atau adab islami, dan lain-lain yang telah disyariatkan oleh islam sebelumnya. Nah sekarang, adakah pacaran islami? Lalu bagaimana dengan pacaran, apakah pacaran telah disyariatkan oleh islam sebelumnya? Jadi, apakah ada perintah dari nabi Muhammad untuk melakukan pacaran kepada ummatnya? Itu lah jawabannya. Singkatnya, kita pakai pada kata menikah, menikah telah dicontohkan oleh nabi Muhammad dan telah menjadi syariat islam, maka tidak ada masalah jika kata menikah disandingkan dengan islami yang kemudian menjadi kalimat menikah islami. Lain dengan kata mabuk, apakah mabuk telah dicontohkan oleh nabi dan telah menjadi syariat islam? Adakah mabuk islami? Tentu ini seperti sebuah kekeliruan yang lucu. Adakah yang masih ingin bertanya tentang bagaimana dengan pacaran islami? sekurang-kurangnya adalah seperti itu.
Jika kita berbicara perihal pacaran mengakibatkan dosa atau tidak, sesungguhnya kita hanya sedang mempermainkan kata saja. Secara akal sehat kita, bahwa seseorang berpacaran atau pun tidak berpacaran jika ditanyakan berdosa atau tidak, maka jawabannya adalah berdosa. Karena, sekarang tidak ada manusia yang tidak memiliki dosa, atau apakah kamu bisa menjamin jika kamu tidak memiliki dosa?
Wahai saudara dan saudariku seiman dan seakidah!
Pacaran hanya akan membawa kita kepada kebingungan yang terus menerus, hubungan tanpa ikatan yang pasti, kasih sayang tanpa sebab yang telah dicontohkan oleh sebaik-baik tauladan ialah nabi Muhammad. Mendefinisikannya hanya akan menambah daftar perbedaan makna, dan semakin menunjukkan kita sebagai manusia yang lemah serta tidak mampu menangkap hakikat dari setiap sesuatu yang ada di sekeliling kita. Sebagai muslim yang beriman dan bertaqwa, cukuplah Al-Qur’an sebagai hakim kita. Kita patuh kepada apa yang telah Allah tetapkan dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an. Jangan kita mengambil dan menggunakan aya-ayat Al-Qur’an untuk keinginan kita, jangan kita menghukumi Al-Qur’an, mencekik ayat-ayatnya dan menyeretnya sesuai dengan kehendak kita, janganlah kita seperti itu. Kira-kira itulah sebagian perkataan dari seorang ulama zuhud yang pernah penulis baca karyanya dalam bentuk buku. Karena patuhnya kita kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta bisa istiqomah pada keduanya hingga akhir hayat kita, boleh jadi ini lah cinta yang sesuai dengan hakikatnya. Cinta yang tidak ada kaitannya dengan yang namanya pacaran, dan pacaran yang tidak mendapat tempat dalam kehidupan islami. Wa Allahu ‘Alam
Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat larangan untuk mendekati zina. Bayangkan, mendekatinya saja kita dilarang, apalagi melakukan perbuatan tersebut. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat al-israa’ ayat 32 yang artinya :
“ Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”
Segala apa pun yang mendekat kepada zina, tidak boleh kita mendekatinya. Pacaran yang terjadi saat ini dikalangan remaja belum menikah, merupakan peluang terjadinya perzinahan. Entah itu pacaran biasa atau pun yang di anggap islami, selama ia belum terikat dengan tali pernikahan seperti yang dicontohkan oleh nabi dan telah diyariatkan islam, maka selama itu pula ia mendekati zina, padahal kita dilarang oleh Allah untuk mendekatinya. Oleh karenanya, nabi Muhammad telah mencontohkan dengan cara menikah supaya tidak terjadi perzinahan dan kita tidak tersesat kepada jalan yang buruk. Amiin. Jika kita masih menginginkan pacaran yang islami juga, maka menikahlah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam!

Komentar
Posting Komentar