Dahulu aku pernah berkata. Aku menyukai. Aku kamu ingini. Kamu hanya akan denganku.I
Dahulu aku mengira. Dunia mudah aku kendalikan. Angin bisa aku hentikan. Dan cinta sesuai dugaan. Supaya kamu menebar senyuman....
Ha ha!
Kebodohan adalah pintu sebuah penyesalan
Dahulu aku bermain dan berdansa dengan semua jenis kebodohan
Sampai terperangkap di dalam sebuah gudang penistaan
Karenanya, kamu aku kenal melalui fase pergaulan
II
Jiwa muda jiwa tak kenal lelah sekaligus buta arah
Dahulu aku merasa tenang untuk kesana, ternyata sadar itu adalah salah
Mungkin aku menanam benih janji di depan halaman rumahmu
Yang ternyata, kamu dapati tak pernah tumbuh hingga saat ini meski kamu terus menunggu dan menyiraminya dengan harapan disertai dengan pupuk kerinduan
Kamu ingin kepastian
III
Angin menggiring jiwaku menuju arah kedewasaan
Aku tahu, dahulu kita ingin menyatu
Seperti buku-buku yang telah berpadu
Namun, itu semua hanyalah warna yang semu
Dan akhirnya, kamu menutup pintu karena aku tak di situ
IV
Aku ingini dirimu hanyalah denganku
Tapi belum pernah datang lagi ke rumah mu
Suara anjing itu! Mungkin yang selalu kau rindu
Sungguh, kamu menyimpan benih yang palsu
Aku kira: karena aku pergi, bukan untukmu
V
Tanpa kata, aku hanya berpaling menuju Dia Yang Satu
Menjauhi mu demi yang Satu
kamu dan kamu tak pernah mengerti
Mengapa aku pergi dan belum kembali?
Namun kini, tak perlu aku cari tentang dirimu
Karena tanpa mimpi, aku melihatmu kembali tersenyum
Sepeninggalku, kamu tak pernah merindu?
Aku sadari kebodohanku yang dahulu
mencintaimu tanpa ilmu dari-Nya adalah dunia yang palsu
maafkan kebodohanku! tutuplah rapat pintu dan jendela rumahmu!
karena sebentar lagi, dia (yang merasa memiliki drimu) akan datang ke rumah mu
menggali tanah di halaman rumahmu, lalu menanam benih harapan yang tak pernah tumbuh!
hingga saatnya, kamu hanya kembali duduk dan terus menunggu. Siapa yang akan datang kembali ke halaman depan rumahmu?

Komentar
Posting Komentar