Gumpalan awan gelap terseret angin menuju ke arah barat. Burung-burung gereja pulang ke sarangnya lebih awal. Sinar matahari hampir hilang karena terselimuti gumpalan awan nan gelap yang sudah tidak mampu menahan beban kegelisahan di atasnya. Di kota urban, sebagian manusia terburu-buru karena khawatir menemukan hujan di tengah perjalanan mereka. Sudah terlanjur basah, hujan menjadi kambing hitam dari setiap kekesalan para manusia. Tidak hanya hujan saja, apa pun bisa menjadi kambing hitam di mata manusia itu sendiri, karena baru-baru ini aku dengar kabar dari manusia bahwasannya mereka pandai sekali menjadikan sesuatu sebagai kambing hitam.
Apa benar begitu?
Menurut aturan alam. Saat ini adalah jam 5 sore waktu Indonesia sebelah barat. Sepertinya akan terjadi hujan yang deras. Seorang anak perempuan dan membawa kantung yang terbuat dari plastik bekas berharap ada seorang yang memberi dan terus memberi, seperi tidak ada harapan lagi kecuali mengharapkan pemberian. Ibu-ibu dengan entah seorang anak kandungnya atau bukan terlihat mengetuk-ngetuk setiap kaca mobil bagus yang mereka jumpai. Nenek tua yang renta, berkeliling menegur hati nurani. Sesekali pria bertato dan masih muda bernyanyi, menjual penderitaannya. Mereka semua seperti sudah menjadi syarat untuk mendirikan sebuah kota. Kenapa? Karena hampir di setiap kota yang berada di negeri ini, salah satu di antara mereka akan ada. Mengisi setiap trotoar jalanan di kota. Seorang anak lelaki, keriting, kulitnya gelap seperti dari Melanesia, usianya 10 tahunan, dan orang akan mengingat dirinya ketika ia tersenyum, tak pernah kenal ayahnya karena telah meninggalkan dunia selamanya, juga ibu yang tak pernah ada kabar dari siapa pun; mungkin menjemput ayahnya.
Anak kecil itu tahu bahwa sebentar lagi akan turun air hujan yang sangat deras. Dengan tatapan khas anak-anak. Ia berlari dengan sandal karet yang lusuh. Harus segera pulang ke panti, tempat ia berkumpul dengan keluarga tercintanya. Ia berlari membawa barang dagangannya, terkadang tisu, atau makanan ringan, atau ia dagang kantung plastik pun jadi jika di pasar, semua bisa jadi uang jika ada barang untuk berdagang. Sekolah sudah menjadi langit baginya, hanya bisa di pandang dari kejauhan sambil ia merebahkan badan, lalu terpejam seolah berada di dalam sekolah dengan seragam bagus dan guru-guru yang baik, kawan-kawan yang pandai, dan ketika ia terbangun lagi semuanya kembali ke atas menuju langit. Belum juga ia sampai menuju panti, hujan sudah mendahului perjalannya yang membuat dirinya harus mencari tempat supaya tidak terkena basah terlalu banyak. Akhirnya ia memilih halte untuk sementara ia meneduhkan diri.
Keadaan halte tidak seperti biasanya. Sepi. Ia adalah pengunjung pertama di halte sore itu, bahkan bisa dikatakan sudah malam karena hari yang terlalu gelap dari biasanya. Tak ada seorang pun kecuali anak kecil kriting itu yang mulai kedinginan dan rasa lapar menyelimutinya. Gelap, lalu lalang kendaraan yang lampunya menyinari jalanan hanya membuat anak itu semakin lapar. Dan tidak sampai hitungan jam, datanglah dua orang yang lebih tua darinya, seseorang yang lain lebih cocok jadi pamannya, dan yang lainnya lebih cocok jadi kakaknya. Mungkin. Namun, nasib anak tak berbapak. Ia hanya mampu terdiam ketika uang hasil jualannya diminta semua oleh mereka berdua yang tak paham belas kasihan. Dalam keadaan lapar, kedinginan, kini uang pun habis diminta oleh kedua iblis tadi. Hujan semakin deras. Sangat deras. Hampir sama dengan derasnya air mata bocah keriting itu.
Halte kembali seperti semula. Hanya ia yang kedinginan dan rasa lapar yang menjadi-jadi. Ditambah, uangnya pergi meninggalkan dirinya seolah lupa dengan banyaknya keringat yang telah dikeluarkan pada siang tadi. Kejam!
Perempuan berseragam sekolah datang menghampiri bocah itu dan duduk di sebelahnya. Gadis itu mengeluarkan makanan dari tasnya yang ia beli tadi sebelum hujan. Sebugkus roti dan cokelat batang, dengan minuman jus kemasan dalam kotak kecil.
"Ini untuk kamu! Kamu pasti laper ya?" Sambil tersenyum kepada bocah kriting tersebut.
Bocah itu hanya menatap heran gadis itu. Anak perempuan yang bersih, cantik, senyumannya yang manis, rambutnya panjang hitam, ditambah seragam sekolah. Sangat mempesona. Bocah itu tak berkata sedikit pun.
"Ini buat kamu! Kamu engga mau?! Kalo kamu engga mau makan makanan dari aku. Aku nangis!!!"
Tidak ada pilihan. Ia menerima makanan itu meski dengan penuh rasa sungkan. Siapa sebenarnya perempuan ini?
"Nah gitu dong, habiskan ya makanannya!!"
Hanya anggukan kepala.
Bocah itu sibuk melahap apa yang ada dihadapannya sekarang sementara gadis itu duduk di sampingnya lalu menatap ke arah jalanan tempat biasa mobil berhenti di depan halte.
"Emm... Tadi aku engga sengaja, lihat kejadian kamu dipalak sama dua orang jahat itu. Tapi aku engga bisa apa-apa."
Gadis cantik ini lebih berpendidikan dan sangat bijak dalam berkata. Beda sekali dengan bocah keriting yang sedang duduk di sampingnya.
Derasnya hujan, kini menjadikan suasana tak lagi menegangkan. Ada seseorang yang rela menolong dirinya terbebas dari rasa lapar, dan mulai merasakan kehangatan dari pemberian si gadis cantik itu. Namun, sepatah kata pun ia belum mampu mengeluarkannya.
"Tenang aja kok! Aku ini engga seperti kedua orang tadi yang malakin uang kamu." Sambil tersenyum gadis itu meyakinkan orang di sebelahnya.
"Eh? Kamu lucu juga yah! Hehehe" Gadis cantik itu terkejut melihat ekspresi wajah seseorang yang baru saja ia jumpai di halte.
Mereka berdua hanya bertatap dan saling tertawa. Mungkin lebih pantas menertawakan diri mereka masing-masing.
Seorang pria tinggi, memakai jas, lengkap dengan sepatu, seperti habis pulang dari kantor, menghampiri mereka berdua dan merusak suasana gembira milik mereka.
"Fathiya?!!"
Gadis itu langsung terkejut mendengar namanya dan langsung menatap ke arah pria itu berdiri.
"Oh, dari tadi kamu di sini! Kan sudah ayah bilang jangan kemana-mana!"
"Ayah?"
"Ayo ikut ayah!"
Tangan kuat ayahnya langsung menggenggam lengan anaknya. Gadis itu, pergi. Setelah uangnya hilang, kemudian rasa laparnya pun hilang, dan sekarang gadis yang menolong dirinya pun hilang.
Hujan mulai reda. Ia pun harus bergegas ke panti, segera meninggalkan halte. Tidak apa-apa, uang bisa dicari kembali, kini rasa lapar terobati, tetapi gadis itu membawa ketulusan yang sangat berarti.
Bersambung...
Sekitar 10 tahun yang lalu, peristiwa yang membuat dirinya sulit untuk mengatakan bahwa "aku telah lupa dengan momen itu." Bocah kecil yang dahulu memiliki rambut keriting dengan kulit khas Melanesia itu telah mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya, baik secara fisik maupun dari segi spiritualnya. Ia telah menjadi seorang lelaki yang mengetahui jati dirinya dan perannya sendiri.
Perempuan yang dahulu pernah memberikan bantuan yang sangat tulus kepadanya, tak pernah bertemu lagi. Bahkan mereka tidak pernah sekali pun menghadapi perjumpaan setelah sore itu; 10 tahun yang lalu.
"Aku berdoa, supaya dia mendapat balasan kebaikan setelah menolongku waktu itu. Meski aku tidak sempat berucap terimakasih kepadanya, namun hatiku berhasil mengatakannya lebih dulu." Hanya ucapan yang tak pernah terdengar oleh seorang yang ia maksud, namun ia pernah berkata seperti itu belakangan ini.
*
"Ayah telah berpisah dengan ruh nya sejak aku lulus dari bangku SMP. Aku harap perpisahan itulah yang membawa ia kepada kebahagiaan yang abadi. Aamiin!" Itulah kalimat yang selalu dilontarkan kepada seseorang yang bertanya perihal ayahnya. Perempuan itu tidak pernah keberatan jika harus memberikan jawabannya. Meski ia punya hak tidak mesti ia menjawab pertanyaan tersebut. Sudah lama ia hidup tidak bersama dengan seorang yang ia sebut-sebut sebagai ayah. Sekarang ia sudah mulai dewasa, sudah mengerti perihal mengapa ayahnya meninggalkannya. Dan ia paham bahwa, cepat atau lambat ia pun akan mengalami seperti ayahnya juga. Pasti!
Semenjak kelahirannya. Gadis manis yang memiliki nama Fathiya itu tidak sempat mengenal ibunya sendiri, bahkan meminum asi nan suci dari sang ibu harus terlewatkan. Karena beberapa menit setelah kelahirannya dahulu, sang ibu tanpa pamit kepada mereka berdua telah pergi lebih dahulu untuk memenuhi panggilan sang Ilahi.
Hari demi hari mereka lalui berdua ketika dahulu semasa hidup ayahnya tidak pernah terpikir untuk menikah lagi dengan wanita lain, ia lebih memilih untuk fokus mendidik sang buah hati dan pada akhirnya akan bernasib sama pula seperti sang istri; memenuhi panggilan Allah ketika ajal sudah ditentukan. Pria itu memang tak memandang lebih terhadap dunia ini. Bahkan ia tak masalah ditinggalkan istrinya lebih dahulu, karena ia tahu ia pun akan mengalaminya atau semua yang berjiwa di dunia ini pasti dan pasti akan mengalami kematian.
Dalam mendidik sang anak, amanah yang mesti dijaga, pria itu sadar betul bahwa anak dan istrinya adalah pemberian Allah yang harus dipertanggungjawabkan nanti di hadapan Allah subhanahu wata'ala. Adapun dunia dan seisinya termasuk keluarga, harta, jabatan, atau apapun yang ada di dunia ini adalah sarana yang diberikan dan akan diminta pertanggungjawabannya nanti ketika kita telah kembali kepada sang Maha Pencipta, Allah Rabb Al-'Alamin. Kira-kira inilah hakikat kehidupan di dunia. Hal ini lah, yang membuat dirinya ringan menjalani hidup. Tak sedih berlama-lama juga tidak terlalu menyanjung kehidupan dunia berlebihan. Terkadang ia begitu keras dalam mendidik anak gadisnya itu, namun dalam artian ia sangatlah menyayangi anaknya. Ia tidak mau anaknya sampai salah dalam menempuh jalan. Ia takut jika ternyata jalan yang dipilih tidak mendapat ridho dari-Nya. Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Demikian sepeninggal ayahnya.
*
"Satu minggu lagi, aku akan berangkat! Aku titipkan panti ini kepadamu, aku harap kamu menjaganya dengan baik, lihat anak-anak itu, mereka bisa menjadi sebab hidup kita ini jadi bahagia pun sebaliknya. Mengerti kan?"
"Hmm... aku merasa memang betul apa yang kamu ucapkan. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita juga, namun kebahagiaan kita belum tentu bisa menjadi sebab kebahagiaan bagi mereka." Kemudian ia menghela nafas dalam-dalam sambil melihat bangunan yang sudah mulai menua.
Dua orang lelaki berbeda suku. Keduanya sudah hidup bersama di panti asuhan saat mereka masih belia. Sebentar lagi, diantara mereka berdua akan ada yang pergi meninggalkan panti itu untuk mengikuti perjudian nasib di negeri orang dalam waktu yang cukup lama; entah sampai batas waktu kapan mereka akan bisa berjumpa kembali. Tepat tujuh hari ke depan, perpisahan itu akan resmi melekat pada keduanya dan secara otomatis benih-benih kerinduan pun telah mereka benamkan beriringan setelah perpisahan itu.
Dengan kata lain, maka salah satu dari mereka akan bertanggung jawab penuh atas pengelolaan seluruh hiruk pikuk yang ada di dalam panti asuhan yang sebelumnya dipimpin oleh pria yang kini tak lama lagi akan berpamitan kepada seluruh penghuni panti asuhan termasuk juga kepada sahabatnya yang akan menggantikan posisi dirinya selama ia pergi. Mungkin untuk selamanya.
*
"Aku berdoa supaya ayah dan ibu tenang di alam sana!" kata-kata itu keluar dengan penuh harap dalam beberapa hari ini. Fathiya selalu mengingat pesan ayahnya, bahwa apa pun yang kita hadapi di dunia ini jangan sampai kita berlebihan dalam segala hal, makanlah secukupnya sampai sebelum kamu kenyang, tidurlah sehabis sholat isya dan jangan melakukan hal yang tidak bermanfaat, lalu sholatlah di sepertiga malam, dan jangan kamu selalu mengikuti perkataan orang lain, serta berpegang teguhlah kepada sumber dan pedoman hidup kita yaitu al-qur'an dan as-sunnah yang di dalamnya akan membawamu kepada jalan yang lurus, walau dalam prakteknya bisa dibilang masih sangat minim bagi gadis tersebut. Gadis yang sudah semakin dewasa ini juga semakin bijak mengarungi kehidupannya sepeninggal ayah dan ibunya.
Takdir Allah yang ia imani, sehingga ia sekarang hidup seperti ini. Ia belum menentukan langkah selanjutnya kemana ia akan pergi. Namun takdir Allah pula yang membawa ia kepada hal yang akan segera ia hadapi. Apakah ini waktu yang tepat untuk menikah?
*
Sore yang gelap. Angin bertiup kencang, awan gelap sudah lama mengintai, gerimis pertanda hujan akan menjadi pelengkap kesibukan seluruh aktivitas di kota ini— Jakarta, kala itu.
"Maaf kawan! Aku tidak bisa mengantarkanmu sampai ke bandara. Jangankan ke bandara, ke halte saja aku tidak bisa."
"Haha. Aku bisa berangkat sendiri, jangan khawatir! Kamu temani anak-anak saja di sini." (Semua barang keperluan dan koper sudah siap ia bawa)
"Atau biarkan aku memanggilkan ojek untukmu?"
"Haha. Tidak perlu, biarkan kita pamit di sini saja." (Dengan senyuman khas itu)
*
Hujan mulai turun dengan perlahan, belum terlalu deras, namun sudah banyak pengendara yang berteduh di sudut-sudut pertokoan, atau tempat lain yang bisa mereka manfaatkan untuk berteduh karena sebagian mereka tidak membawa jas hujan.
Ia sudah sampai di halte 5 menit yang lalu. Penampilannya sudah rapih, bagai seorang yang akan melamar ke sebuah perusahan, dengan kemeja panjang, celana hitam panjang, dilengkapi sepatu hitamnya. Wajahnya yang tenang, berseri khas orang timur, senyum dan rambut keritingnya tidaklah berubah; selalu menarik perhatian orang lain.
Lelaki yang dahulu hanya seorang anak kecil tak dianggap yang kumel, penampilannya tidak terurus, memakai sandal lusuh dan dengan barang dagangannya berupa tissue, duduk di tempat yang dahulu ia pernah berteduh di sini; lapar, kedinginan, dan uangnya dirampas oleh dua iblis sialan itu— oh. Sekilas, ia terbesit masa lalunya pada saat masih bocah. Namun sekarang, lihatlah! ia duduk di tempat yang sama akan tetapi dengan keadaan yang jauh berbeda. Seolah tak percaya bahwa ini adalah mimpi, ia akan ke luar negeri. Negara yang indah dan jauh di seberang laut sana.
Ia masih duduk di halte itu. Sendirian. Hujan, mengingatkan ia akan sebuah bayangan masa lalu yang seolah tumbuh kembali ditengah miliyaran tetes air sore itu.
"Permisi!"
"Maaf, mas?" (Gadis itu heran melihat pria yang ia hampiri ternyata sedang melamun)
"Permisi!" (Ia menaikkan suaranya hingga membuat pria itu sadar dan menoleh ke arahnya)
"Oh, iya.. iya silakan? Ada perlu apa ya mbak? (Pria itu sedikit menahan rasa malu)
Gadis itu hanya tersenyum ramah. Dan ia hanya ingin duduk di halte itu. Meminta si pria untuk menggeser sedikit posisinya, supaya ia bisa menaruh koper dan tasnya juga.
Nampaknya gadis itu telah berusaha menghindari hujan agar tidak membasahi seluruh tubuhnya. Namun, hal itu tidak berarti karena sekarang ia duduk dengan baju yang lembab dan kedinginan karena angin yang meniup-niup.
"Ini mbak, terimalah! Hanya roti dan susu kotak. Cukup untuk menambah isi lambung anda." (Dengan senyuman itu, ia mencoba untuk memastikan bahwa gadis itu tidak kelaparan)
"Oh, i..i..iya. terima kasih." (Gadis itu canggung melihat pria di sampingnya)
Gadis itu mulai membuka bungkus rotinya dan mulai menyantap dengan penuh rasa senang. Di tengah santapannya, tiba-tiba saja si pria itu tersenyum ke arah jalanan yang basah dan menarik nafas seolah bayangan itu benar-benar tumbuh dengan seluruh pucuk yang akan mengeluarkan bunga-bunga kenangan masa lalu, ditengah derasnya hujan dan basahnya jalanan yang ada di hadapan mereka berdua saat ini.
Halte itu tidak dihampiri siapapun kecuali hanya mereka saja berdua di sana. Hujan semakin deras, belum ada tanda-tanda bahwa keduanya akan segera pergi. Mereka masih di posisi yang semula.
Duduk bersampingan dibatasi koper dan tas menghadap ke jalanan.
Dengan tatapan ke arah jalanan dan senyum yang khas. Lelaki itu menghiasi hujan sore ini dengan
cara bercerita kepada si gadis yang baru ia jumpai sore ini.
"Dahulu, di tempat ini. Persis di posisi duduk kita berdua seperti ini, aku pernah bertemu dengan perempuan yang baik hati. Ia memberikan kebaikannya kepada orang yang lemah seperti aku. Aku yang saat itu kelaparan dan kedinginan, ingin sekali memakan sesuatu yang mengenyangkan. Datanglah dia, yang tak pernah aku temui sebelumnya dan tak pernah aku kenali. Memberikan ketulusan dalam sebuah roti, lalu aku memakannya. Kami sempat bertatap dan tertawa bersama, mungkin karena wajah kami yang aneh atau hanya aku yang aneh darinya. Entahlah. Saat itu, aku benar-benar merasakan arti sebuah kasih sayang."
Pria itu terus bercerita tentang kejadian yang sempat dialaminya di dalam halte tersebut. Namun, tatapan matanya tidak pernah melirik kemanapun, hanya menatap jalanan yang basah itu. Terlihat ia tersenyum, tertawa, dan ekspresinya berubah sesuai alur cerita yang ia ceritakan kepada seorang gadis yang ada di sampingnya sore itu.
Di samping, gadis itu mencoba untuk segera menghabiskan rotinya. Kunyahan demi kunyahan yang diiringi dengan cerita si pria itu membuat ia tersenyum dan merasa senang mendengar cerita itu.
Hujan belum menandakan akan segera reda. Pria itu terus bercerita, bahwa ia ingin sekali kembali bertemu dengan gadis yang baik itu. Entah dengan cara apa, sepertinya hal itu mustahil baginya. Karena mereka berdua berpisah begitu saja. Pertemuan yang singkat namun sangat membekas seumur hidup di dalam benak si pria keriting.
"Apakah kamu merindukan gadis itu?" (Dengan wajah yang penuh harap ditambah senyuman manisnya)
Gadis itu bertanya dengan penuh penasaran.
"Ya, aku sangat merindukan kehadiran dirinya!"
Pria keriting itu langsung menatap ke arah wajah si gadis yang duduk di sampingnya.
Hujan mulai reda, dan jalanan mulai ramai oleh pengendara yang baru pulang dari kantornya masing-masing. Bersamaan dengan itu, awan pun menghitam seolah tidak ada lagi cahaya yang menempel, hanya lampu-lampu jalanan, pertokoan, dan lampu-lampu kendaran yang menyinari seluruh sudut perkotaan. Hari sudah gelap. Sore berganti menjadi malam. Dalam susunan waktu, sore melebur untuk kemudian menjadi malam. Sehingga, menjadi tanda untuk mengenali lintas waktu yang sudah menjadi ketetapan sang Ilahi. Sama halnya dengan pria itu, entah sudah berapa lama ia menembus susunan waktu yang telah membuat dirinya tidak mengenali lagi rupa si gadis yang ada di dekatnya sekarang. Dia adalah gadis yang memberinya ketulusan itu beberapa tahun silam di tempat yang sama, ialah gadis yang membuatnya mengerti apa arti kasih sayang.
Suara mesin bus itu ikut hadir ditengah kebersamaan mereka berdua. Dan keduanya harus segera bergegas untuk menaiki bus yang sudah datang kemudian menuju ke bandara.
Malam itu menjadi saksi, dua manusia yang sempat dipertemukan untuk kedua kalinya, namun dengan keadaan ingatan yang berbeda. Sehingga pertemuan itu terasa tidak berarti bagi si pria keriting; bertemu dengan orang yang telah lama ia rindukan adalah hal terbaik, namun sayangnya ia tidak pernah mengenalinya lagi, baik suara, wajah, atau pun semua hal yang melekat pada fisik si gadis. Baginya, gadis itu hanyalah orang asing yang ia temui di halte, gadis biasa yang berteduh dan menerima sebuah roti darinya. Ia anggap hal tersebut adalah biasa.
Bus itu berangkat menuju bandara. Pria dan gadis itu tetap duduk bersampingan, setelah tas dan koper mereka diletakan pada bagasi. Mereka memiliki tujuan yang sama— Bandara.
Sekarang giliran si gadis yang bercerita tentang perjalanan hidupnya, sesekali keluar tawa dari mereka berdua membuat perjalanan mereka tidak dihantui rasa bosan.
*
Fathiya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri. Ia juga ingin mencari pengalaman di negeri asing itu. Mungkin sesekali ia akan mengambil sebuah perkerjaann yang bisa membantunya dari segi biaya untuk hidup di luar negeri.
Gadis cantik itu memilih untuk melanjutkan pendidikannya dibanding menikah. Ia merasa belum ada pria yang cocok untuk dijadikan sebagai pendamping hidupnya. Mungkin dengan keputusannya ini, ia juga bisa mendapatkan pria impiannya itu— semoga.
Sore ini, ia berangkat menuju bandara. Dengan awan yang mendung dan gerimis, ia sudah membawa koper dan tasnya. Sebentar lagi ia akan berteduh di halte itu, dan akan menunggu bus jurusan bandara.
Di halte yang usianya cukup lama itu, ia mendapati seorang pria keriting yang sedang duduk sambil melamun.
Fathiya menyempatkan untuk menatap bentuk tubuh pria tersebut dari ujung kaki sampai rambut. Pakaian pria itu rapih, seperti orang yang baru akan melamar pekerjaan ke sebuah kantor. Namun disaat melihat rambut keriting pria tersebut, seolah ia terbesit sebuah kenangan yang ada di benaknya beberapa tahun silam. Ia berhasil mengingat sesuatu. Dan mengenali melalui rambut keritingnya, serta ingin memastikan bahwa dia adalah bocah kumel yang dahulu ditemani di halte ini. Ia akan lebih yakin jika pria itu hendak tersenyum. Senyum khas orang timur.
"Aku akan memastikan bahwa dia adalah bocah kumel yang dahulu itu, ketika ia tersenyum, pasti akan aku kenali!"
"Namun, bagaimana jika ia tidak mengenali diriku?"
"Oh tidak! Aku tidak akan memperkenalkan diriku kepadanya, dan berkata: aku adalah gadis yang memberimu roti waktu itu!"
"Oh tidak.... Bagaimana seandainya ia mengenali diriku? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus berkata padanya bahwa aku merindukan senyumannya itu."
Di dalam hatinya, Fathiya berbicara pada dirinya sendiri beberapa saat ketika menatap pria keriting duduk di halte itu. Potongan kenangan yang terlintas di benaknya membuat dirinya merasakan hal yang istimewa saat ini. Seolah ia tidak percaya dengan keadaan ini.
Pasalnya, setelah pertemuan singkat beberapa tahun silam. Fathiya selalu ingin bertemu lagi dengan bocah keriting itu, ia ingin melihat senyumannya yang sulit untuk dilupakan hingga saat ini. Bahkan ia seolah merekam jelas dalam benaknya bentuk senyuman itu. Senyum manis yang penuh keceriaan khas timur.
Apakah benar ia adalah bocah kumel yang dahulu aku temui di halte ini?
"Permisi!"
*
my diary
Sore itu, tatkala hujan. Aku duduk memandangi ke arah jalanan yang basah. Beberapa saat ketika ia telah tiba, dan kini dia disampingku. Perempuan itu, hadir di tengah milyaran tetes air langit. Aku tidak pernah tahu, siapakah dia? Suara itu... "permisi?" seakan menjadi irama pembuka kebersamaan kita berdua sore itu. Aku merasakan ketulusan yang dibalut dengan sikapnya yang sopan itu. berhasil mengingatkan ku tentang bertahun-tahun lamanya, aku tengah menanti kedatangan seorang yang dahulu pernah menolongku tepat di halte ini. Dengan kata lain, rindu. Alasan tepat aku untuk berkata seperti itu.
Aku berserah! Kerinduan ini hanya membuat aku gelisah, dan akhirnya perempuan ini yang datang dengan sikapnya yang mengingatkan aku pada sore, beberapa tahun silam. Aku tidak tahu, apakah ia adalah gadis yang dahulu aku temui? Oh, sayang ini akibat aku merindukannya! Tentu saja perempuan itu bukanlah gadis yang aku temui dahulu, Tolol! Aku terlalu berlebihan dalam berekspektasi.
Siapa aku? Apa hak aku untuk merindukan gadis itu? Dia hanya seorang gadis biasa bukan? Wajar bila dahulu ia menolongku disaat aku butuh pertolongan, itulah yang disebut orang-orang sebagai manusiawi. Aku memang pantas ditolong! Si hitam keriting tak berdaya, miskin dan sebatang kara. Menangislah wahai jiwa...
Sore itu, kebersamaan kita berdua ditengah kegelisahan. Tetesan air hujan melebur menjadi milyaran tanda tanya. Apakah dirimu menjadi seperti ini? Ataukah gadis 'biasa' saja yang dahulu di halte itu telah tiada, entah dengan siapa?
Akhir-akhir ini setelah pertemuan dengan gadis itu ketika menuju ke bandara, pria itu menceritakan isi hatinya lewat buku diary yang sengaja ia tulis. Setelah melewati perjalanan bersama seorang yang baru saja ia temui dan menemaninya sepanjang perjalanan ke bandara. Pria itu merasakan kekuatan yang berbeda. Rindu, tidak membuatnya menjadi kuat, namun akan membawanya menuju hal yang membuat hati mampu menerimanya. Ya, ikhlas.
Tetap dengan senyuman khas timurnya. Matahari adalah sahabat sejatinya dan bulan sebagai teman menulis isi hatinya walau bintang enggan mendengarkan ceritanya yang selalu membosankan. Timur, mata angin yang seharusnya ia akan pulang.
*
Mereka berdua berpisah di bandara, dengan membawa ceritanya masing-masing terbang bersamanya, melayang di atas awan. Seolah kejadian di halte itu adalah sebuah kepingan puzzle yang selama ini hilang, yang bertahun mereka cari dan rindukan. Pun perjalanan yang tidak membosankan ketika mereka di dalam bis menuju ke bandara; perjalanan singkat yang tidak pernah membosankan keduanya.
Apa daya manusia, si pria keriting tetap dengan kelemahannya tak mampu memastikan sesuatu, bahkan untuk memastikan si gadis itu adalah seorang yang ia rindukan pun tak berdaya. Begitu juga Fathiya, ia merasa lemah dan tidak pernah kuasa jika harus berterus terang perihal peristiwa yang pernah terjadi ketika pertama kalinya mereka bertemu di halte itu, dan hanya bisa menunggu serta berharap sampai tidak adanya kepastian apapun.
Hujan pun reda, bersamaan dengan perpisahan mereka di bandara. Sekarang keduanya hanya bisa menatap keluar jendela dengan udara yang kosong di pesawat yang berbeda, tentu dengan arah dan tujuan yang berbeda. Namun, tetap dengan kenangan yang serupa. Halte.
Itulah kisah dua insan yang pernah bertemu kemudian dititipkan sebuah kenangan yang di dalamnya hanya kerinduan sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan mereka berikutnya. Keduanya berbeda suku dan etnis, namun memiliki rasa rindu yang sama tanpa memandang apa itu perbedaan.
Fathiya, terbang menuju tempat yang ada di seberang sana berharap setelah mendarat, kehidupannya akan menjadi lebih baik. Tanpa ibu sejak kecil dan ayahnya pun pergi untuk menjemput rindunya, ia telah menjadi gadis yang dewasa sekarang. Itulah Fathiya, dan rindunya yang kemudian tidak tenggelam dalam kekecewaan.
Setelah pertemuan yang kedua kalinya di halte kala itu, Fathiya merasakan betul cinta yang mendalam, rindunya terbayar dengan perjalan singkat menuju bandara. Dan benar saja ia telah menaruh cinta kepada pria keriting itu tanpa pernah diketahsui orang lain. Berbeda dengan si pria keriting itu, ia justru sangat bersyukur pernah bertemu dengan gadis cantik yang baik dan menerimanya walau sekedar teman seperjalanan dalam hidupnya. Bahkan ia akan tetap berusaha mengingat kenangan-kenangan ketika bersama gadis tersebut — karena kenangan itu yang mengantarkan aku untuk mencari kembali keberadaan Fathiya kemudian menjemputnya, hingga sekarang kami berdua telah menikah dan pulang untuk tinggal bersama semua kenangan itu di kampung halamanku; bagian timur Nusantara.
-Selesai-
*sharkiyah diambil dari sebuah kata dalam bahasa arab

Komentar
Posting Komentar