Sepertinya musim hujan tahun ini akan mengalami kemunduran dari yang seperti biasanya. Sudah bulan ke-11 di tahun masehi, hujan masih sangat jarang sekali turun, khususnya di tempat aku tinggal saat ini. Terkadang hanya terlihat gumpalan awan yang menjadikan hari mendung tanpa ada kepastian akan turun hujan ataukah tidak? Oh, sudah tentu alam tidak pernah memberikan harapan. Apalagi yang palsu, bukan? (tertawa)
Sudah 2 hari ini aku tidak masuk kuliah. Hari ini dan kemarin, menjadi hari yang berat untuk tubuhku melaksanakan tugasnya. Ia tidak kuat berjalan, otot-ototnya lemah, jari-jemarinya tidak berdaya, suhunya pun sangat tinggi, lebih sering ia tertidur lemas di atas pembaringannya, bibirnya kering memucat, dan malamnya dihiasi dengan mengigau mungkin disebabkan suhunya yang sangat tinggi. Bulan November kali ini, aku tidak segagah pada tahun yang lalu; ya, terlalu lemah!
Sejak semester 3, aku berpindah ke asrama A. Ini merupakan peraturan dari Pesma, harus bergantian setiap semesternya. Itu artinya, selama 2 tahun (4 semester) penuh aku akan merasakan pergantian asrama. Sedikit melelahkan memang. Kembali beradaptasi dengan kawan-kawan, memulai dengan kepengurusan baru, dan begitu lah kehidupan di asrama.
Aku merasakan tubuhku sangat berat untuk berdiri. Tidak tau mesti berbuat apa, kemudian aku teringat orang tuaku. Dan, tidak lama kemudian, setetes air mata mengalir kecil di antara pipiku. Sekarang, tidak tau mesti bagaimana. Aku memulai titik kepasrahanku di sini. Keluarga memang selalu tepat untuk menjadi alasan terbaik untuk aku rindukan. Entah penyakit apa yang Allah berikan saat ini terhadapku. Aku tidak ingin berputus asa, sakit bukanlah alasan untuk hatiku menjadi lemah. Mungkin badanku sudah tidak berdaya sekarang, namun tidak untuk hati dan jiwaku. Berusaha untuk tetap menguat!
Ah sial! tetesan air mataku....
Tulisan ini aku buat untuk diriku dan kamu. Aku tidak tau, hari esok jasadku masih di atas bumi atau sebaliknya. Bahkan sebulan kemudian, mungkin hanya tinggal namaku saja. Dengan tubuhku yang lemah kali ini, memaksakan diri untuk berbicara di atas papan ketik., sebab mulutku terlalu lemah! Penuh kejujuran, bayang-bayangmu ada menyertai ingatanku. Aku seolah dilemahkan dengan bayanganmu. Aku tau, kamu sehat-sehat saja di sana, dan ceria seperti sediakala. Semoga. Di bulan kesebelas ini, aku menulis kata-kata untuk kita. Mungkin terakhir kalinya, dan tidak ada kata-kata selanjutnya. Kata maaf, terlalu hina untuk kita, bukan? Baiklah, aku tidak segagah tahun-tahun lau di bulan yang sama. Kali ini, aku kembali terjangkit rindu yang menyiksa kedua kelopak mataku, karena ia selalu melihat bayanganmu di depan sana. Penuh kejujuran, rasa rindu ini semakin tak terbendung lagi. Dan aku tak ingin takut ketika tiba waktunya, nanti.
Dan, sial! air mata sialan ini!! Aku benci.
sendirian,
di ruang kecil, tanah patriot, bulan kesebelas tahun 2018
Sudah 2 hari ini aku tidak masuk kuliah. Hari ini dan kemarin, menjadi hari yang berat untuk tubuhku melaksanakan tugasnya. Ia tidak kuat berjalan, otot-ototnya lemah, jari-jemarinya tidak berdaya, suhunya pun sangat tinggi, lebih sering ia tertidur lemas di atas pembaringannya, bibirnya kering memucat, dan malamnya dihiasi dengan mengigau mungkin disebabkan suhunya yang sangat tinggi. Bulan November kali ini, aku tidak segagah pada tahun yang lalu; ya, terlalu lemah!
Sejak semester 3, aku berpindah ke asrama A. Ini merupakan peraturan dari Pesma, harus bergantian setiap semesternya. Itu artinya, selama 2 tahun (4 semester) penuh aku akan merasakan pergantian asrama. Sedikit melelahkan memang. Kembali beradaptasi dengan kawan-kawan, memulai dengan kepengurusan baru, dan begitu lah kehidupan di asrama.
Aku merasakan tubuhku sangat berat untuk berdiri. Tidak tau mesti berbuat apa, kemudian aku teringat orang tuaku. Dan, tidak lama kemudian, setetes air mata mengalir kecil di antara pipiku. Sekarang, tidak tau mesti bagaimana. Aku memulai titik kepasrahanku di sini. Keluarga memang selalu tepat untuk menjadi alasan terbaik untuk aku rindukan. Entah penyakit apa yang Allah berikan saat ini terhadapku. Aku tidak ingin berputus asa, sakit bukanlah alasan untuk hatiku menjadi lemah. Mungkin badanku sudah tidak berdaya sekarang, namun tidak untuk hati dan jiwaku. Berusaha untuk tetap menguat!
Ah sial! tetesan air mataku....
Tulisan ini aku buat untuk diriku dan kamu. Aku tidak tau, hari esok jasadku masih di atas bumi atau sebaliknya. Bahkan sebulan kemudian, mungkin hanya tinggal namaku saja. Dengan tubuhku yang lemah kali ini, memaksakan diri untuk berbicara di atas papan ketik., sebab mulutku terlalu lemah! Penuh kejujuran, bayang-bayangmu ada menyertai ingatanku. Aku seolah dilemahkan dengan bayanganmu. Aku tau, kamu sehat-sehat saja di sana, dan ceria seperti sediakala. Semoga. Di bulan kesebelas ini, aku menulis kata-kata untuk kita. Mungkin terakhir kalinya, dan tidak ada kata-kata selanjutnya. Kata maaf, terlalu hina untuk kita, bukan? Baiklah, aku tidak segagah tahun-tahun lau di bulan yang sama. Kali ini, aku kembali terjangkit rindu yang menyiksa kedua kelopak mataku, karena ia selalu melihat bayanganmu di depan sana. Penuh kejujuran, rasa rindu ini semakin tak terbendung lagi. Dan aku tak ingin takut ketika tiba waktunya, nanti.
Dan, sial! air mata sialan ini!! Aku benci.
sendirian,
di ruang kecil, tanah patriot, bulan kesebelas tahun 2018
Komentar
Posting Komentar