Langsung ke konten utama

Tebar Inspirasi Remaja

Sudah hampir 2 tahun aku tidak lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Sebuah bangunan yang menyimpan banyak cerita dan cinta. Aku berjalan menuju gerbang  utama bangunan itu, terlihat beberapa mata anak-anak yang tampak berkilau penuh dengan kerinduan yang sedang bermain di beranda, tatapan mata yang tajam, dan senyuman yang menyimpan potongan pilu membuat mereka tetap tegar untuk hidup dan menggapai mimpi-mimpi itu. Aku menembus aktifitas mereka sehari-hari yang kini sudah menjelang sore hari.

Aku bersama beberapa kawan-kawan komunitas telah merencanakan ke tempat ini sejak 2 Minggu yang lalu. Tempat yang menjadi rumah bagi saudara-saudara 'kami' yang notabene mereka semua tanpa orang tua biologis saat ini. Banyak sebab yang menjadikan mereka tidak bisa bersama dengan orang tuanya. Entah itu kematian, ditinggal pergi sejak lahir, atau sengaja dibuang. Agak miris memang. Namun, inilah kenyataan yang mesti mereka hadapi bersama. Bersama kita!

Panti asuhan yang terletak di pinggiran ibu kota. Tampak sederhana di seluruh bagian yang menempel di bangunan itu. Jalan setapak yang menjadi gang masuk menuju panti asuhan terkena sebagian sinar matahari jam 4 sore, menambah suasana sore ini semakin hangat. Anak-anak tampak curiga dan memikirkan banyak hal di benaknya, tatkala aku dan kawan-kawan tiba di gerbang utama.

Beberapa menit kemudian, mereka merasa lega dan sebagian dari mereka mulai mendekat ingin akrab dengan orang-orang baru yang bertamu ke 'rumah' mereka. Aku memilih duduk sejenak di depan teras rumah pengurus panti, aku memperhatikan sekelilingku, sepintas bangunan ini layaknya sebuah pesantren. Anak-anak perempuan berjilbab, dan yang lelaki pun memakai peci hitam. Suasana ini, kembali aku rasakan sejak aku kelas 3 SMA silam.

Kawan-kawanku terlebih dahulu menyapa sang pengurus panti asuhan. Meminta ijin untuk 'membersamai' adik-adik kami, meski beberapa hari yang lalu kami telah meminta ijin dan menyurvei lokasi ini.

"Usianya 2 tahun" kata seorang anak panti yang sudah remaja, ia aku tanyai mengenai seorang balita terus berlalu lalang membawa botol susu yang baru saja diisi. Wajahnya sangat manis, dia imut, anak perempuan tanpa memakai sandal, di wajahnya terdapat sedikit noda cokelat, sepertinya, menambah dia semakin lucu sambil mengedot botol susunya. Matanya tidak bosan menatap ke arahku dan kawan-kawanku. Sepertinya dia penasaran. Dia bukanlah anak kandung dari sang pengasuh di panti tersebut, melainkan 2 tahun yang lalu ditemukan di pinggir jalan seolah dia adalah dosa yang harus dibuang, begitulah nasibnya ketika dia masih bayi dan berhasil di bawa ke panti asuhan ini. Detik ini, dia tepat di hadapanku. Menatapku dengan heran, dan aku pun heran. Hehe...

Kami bermaksud membina dan mengedukasi saudara-saudara kami di panti asuhan ini. Komunitas ini, berangkat dari kesadaran kami dan kepedulian kawan-kawan terhadap remaja saat ini, terkhusus mereka yang yatim dan piatu. Dengan keterbatasan ilmu yang kami miliki, namun kami ingin berusaha berbagi sedikit demi sedikit apa yang telah kami dapatkan selama di sekolah dahulu bahkan sampai sekarang duduk di bangku perkuliahan. Mungkin hal ini bisa disebut juga proses membuktikan sebuah istilah ilmu yang bermanfaat. Atau istilah lainnya yang subtansinya tidak berbeda.

Acara akan segera dimulai. Bertempat di dalam masjid yang masih terletak di komplek panti asuhan, mereka (baca: anak-anak panti) sangat antusias atas kedatangan kami, senyuman yang menjadi sebuah jamuan pertama cukup membuat aku dan kawan-kawanku semakin nyaman. Kami pun memulai acara, seperti biasa, kami memperkenalkan diri, dan menyampaikan maksud kedatangan, sesekali dengan ice breaking. 

Kemudian, berlanjut kepada pembagian kelompok. Tiap-tiap mereka, mendapat seorang mentor dari komunitas ini. Satu mentor membersamai beberapa anak-anak dan remaja. Antusiasme bertambah ketika kamera DSLR yang aku pegang mulai aku fungsikan sebagaimana fungsinya. Menangkap potongan senyum di wajah-wajah mereka yang penuh ceria, dan berpasang-pasang mata yang penuh dengan pancaran cinta. Acara kami berjalan lancar, sesuai susunan yang telah kami tetapkan. Terima kasih, ya Allah!

Tiba saatnya, aku menjadi mentor untuk 3 perempuan yang masih berusia remaja. Aku berkenalan dengan mereka secara singkat, kemudian sebaliknya. Lalu, aku membawakan materi dengan cara bercerita dan menceritakan kisah sahabat Nabi. Mereka tampak penasaran, dan sesekali tertawa agak malu, bahkan mereka tidak ingin keluar dari rasa malu. Mereka sungguh pemalu. Aku selesai bercerita, kemudian aku meminta dari tiap-tiap mereka mengambil kesimpulan yang telah barusan aku ceritakan kepada mereka. Yang menarik adalah, ketika aku meminta kepada mereka untuk menceritakan latar belakang mereka dan mengapa bisa sampai di panti ini. Tenyata, salah satu dari mereka adalah seorang mualaf dan baru 5 bulan berada di panti asuhan ini, ceritanya sangat menarik dan  inspiratif. Pada lain waktu  aku ingin menceritakan tentangnya. Pada pertemuan pertama ini, aku hanya berbagi pendapat dengan mereka, bercerita sahabat Nabi, serta menjawab apa yang aku bisa sesuai ilmu yang telah aku dapatkan. Mereka tampak membutuhkan seorang yang dekat dan terus membina dirinya terutama di bidang keislaman.

Sebentar lagi adzan maghrib segera dikumandangkan. Aku dan kawan-kawan komunitas harus segera bergegas dan mulai menutup rangkaian acara kita kali ini. Mereka meminta agar Minggu depan, kami bisa kembali ke panti asuhan lagi. Berbagi ilmu, dan bercerita. Itulah yang kami lakukan. Membersamai anak-anak panti asuhan adalah hal yang sangat luar biasa, banyak kesan yang tidak mungkin aku tuangkan di tulisan ini. Semua tersimpan di benak dan sanubariku. Kerinduan sesungguhnya aku rasakan, ketika ada salah seorang remaja yang sejak lahir tidak pernah mengetahui wajah ibunya, ayahnya meninggal dunia dan ia dititipkan kepada orang lain. Hingga saat ini, ia hanya bisa melantunkan doa selama di panti asuhan dengan harapan bisa bertemu dan melihat wajah ibunya jika masih hidup, ataupun nanti bertemu di akhirat kelak. Karena doa-doa yang telah terucap dengan ikhlas tidak pernah akan sia-sia.

Kami pulang. Dan kami akan kembali!

#tebarinspirasiremaja

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Exquisite Lightweight Recipe for Sus Dry Cheese Vs Sus Dry Chocolate Special

This Dry Sus Cake is indeed yummy, so it is loved by many children and adults. This dry sus cake is best made as a snack when relaxing with the family, besides this elegant, sus sus snack is also suitable as a special Eid cake . To create dry, elegant sus can snacks in a variety of ways, here is a recipe for creating the most delicious sus sus dry snacks . There are two elegant recipe snacks for those of you who like salty cheese cake. Try the dry cheese sus cake and chocolate dry sus cake for those of you who like chocolate.   1. Recipe Sus Dry Cheese Ingredients Sus Dry Cheese flour 125 gr (medium protein) egg 3 eggs baking powder 1 teaspoon water 250 ml margarine 50 gr butter 50 g grated cheese 180 gr salt 1/2 tsp How to make a special dry cheese cake cook water with butter, margarine and salt while stirring, stirring until it boils. Turn off the heat. Then enter the flour gradually while stirring until blended, Turn on the fire again, cook ...

Sharkiyah (Bagian 1 s/d selesai)

Gumpalan awan gelap terseret angin menuju ke arah barat. Burung-burung gereja pulang ke sarangnya lebih awal. Sinar matahari hampir hilang karena terselimuti gumpalan awan nan gelap yang sudah tidak mampu menahan beban kegelisahan di atasnya. Di kota urban, sebagian manusia terburu-buru karena khawatir menemukan hujan di tengah perjalanan mereka. Sudah terlanjur basah, hujan menjadi kambing hitam dari setiap kekesalan para manusia. Tidak hanya hujan saja, apa pun bisa menjadi kambing hitam di mata manusia itu sendiri, karena baru-baru ini aku dengar kabar dari manusia bahwasannya mereka pandai sekali menjadikan sesuatu sebagai kambing hitam. Apa benar begitu? Menurut aturan  alam . Saat ini adalah jam 5 sore waktu Indonesia sebelah barat. Sepertinya akan terjadi hujan yang deras. Seorang anak perempuan dan membawa kantung yang terbuat dari plastik bekas berharap ada seorang yang memberi dan terus memberi, seperi tidak ada harapan lagi kecuali mengharapkan pemberian. Ibu-ib...

Alles Komt Goed

Aku menatap awan-awan berkeliaran terseret embusan angin Di tepi pantai, deburan ombak memecah kecemburuan Nelayan mulai pergi melaut memburu kebahagiaan Belahan jiwa dan buah hati menunggu ceria di surga kecil miliknya Aku masih tetap memandangi awan-awan, sekarang aku sendirian Mereka tau, aku pasti cemburu Tidak bisa ikut bersamanya Di hari yang paling indah—untuknya Aku sebal, awan-awan itu mengira aku cemburu Perhatikanlah, aku  hanya sedang menikmati tersiksa oleh derasnya rindu "Alles komt goed" —November Hasil terjemah ke bahasa Belanda : Ik keek naar de wolken die in de wind dwaalden Op het strand breken de golven jaloezie Vissers begonnen te vissen op geluk Zielsverwanten en kinderen wachten gelukkig in zijn kleine paradijs Ik staarde nog steeds naar de wolken, nu was ik alleen Ze weten dat ik jaloers moet zijn Ik kan niet met hem meegaan Op de mooiste dag - voor haar Ik ergerde me, de wolken dachten dat ik jaloers was Kijk, ik vind het gewo...