4 Mei
"Ini ongkosnya! Abang udah makan belum? Kalo belum, makan dulu ya," kata ibuku seraya menutup tas kerjanya dan langsung bergegas pergi.
Sejenak aku melihat lembaran uang yang sekarang kupegang. Mesin motor kubiarkan menyala. Aku tidak langsung pergi ke rumah untuk kembali. Pagi ini aku memikirkan sesuatu di depan stasiun Tambun. Beberapa orang di sekitar tidak sempat aku pedulikan.
Seharusnya aku tidak lagi meminta uang kepada orangtuaku!
Hanya ungkapan dari dalam hati nuraniku.
Mengingat aku bersyukur kedua orang tuaku detik ini masih hidup bersama di dunia ini. Namun, secara fisik mereka berdua sudah semakin lemah. Dan aku masih belum bisa lepas dari meminta kepada keduanya. Tapi aku yakin, suatu saat aku pasti bisa memberi kepada keduanya, bahkan kepada setiap orang yang butuh. Aku yakin!
Setelah mengantarkan ibuku ke stasiun untuk menaiki kereta ke arah tempat kerjanya, aku putuskan kembali ke rumah meski beberapa saat hanya memandangi uang yang diberikan tadi.
Hari ini aku akan pergi ke sebuah tempat yang berada di Jakarta. Kota yang dahulu ayah terlahir di sana, besar dan tumbuh bersama mereka yang berbeda suku dan etnis. Ia dewasa dengan kerasnya kehidupan di kota kelahirannya. Kota ini pula yang menarik ibuku untuk melanjutkan sekolahnya usai lulus SMA. Gadis kampung dan polos yang tidak tahu banyak tentang Jakarta. Di Jakarta, Tuhan mempertemukan mereka berdua di tengah jutaan manusia dengan hiruk pikuknya. Tidak hanya bertemu, bahkan memulai kisah baru yang di dalamnya penuh keindahan maupun kesedihan. Terima kasih Jakarta!
Aku senang bisa berjalan-jalan, berlama-lama di Jakarta. Meski sebagian orang tidak suka dengan kota ini dengan ribuan alasannya. Aku hargai itu. Tapi, Jakarta tetap kota bersejarah bagi bangsa Indonesia, terutama untuk ayah dan ibuku.
Kota Tua yang menjadi tujuan perjalananku hari ini sangatlah padat. Sepertinya, aku salah memilih waktu. Karena aku baru berangkat setelah asar dari rumah, dan sekarang adalah malam Minggu.
Aku perhatikan setiap orang, baru kali ini aku melihat banyak orang-orang yang aneh selain diriku. Hehehe.
Aku tidak tega bila harus menyebutkan keanehan mereka, biarkan hal itu menjadi pandangan yang lewat begitu saja.
Oiya, niatku ke Kota Tua adalah ingin mengunjungi museum yang ada di sana. Karena kehadiranku terlambat, semua museum yang ada di sana sudah ditutup. Seharusnya, aku yang berangkat lebih awal!
Daripada harus cepat-cepat kembali, aku memilih berjalan-jalan dan membeli beberapa makanan ringan dengan minumannya. Aku memilih duduk di depan museum keramik. Di situ aku duduk di atas bola-bola beton besar yang aku jadikan tempat duduk. Aku jadi teringat bahwa di museum inilah dulu aku bertemu dengan 3 orang pemuda berasal dari Madinah, Saudi Arabia. Mereka kagum dengan Indonesia. Kami sempat bercakap-cakap dengan bahasa mereka, meskipun kemampuan bahasaku masih rendah, aku tetap mencoba. Kami berfoto dan mereka meminta kontak WhatsApp. Aku bilang kepada mereka bahwa aku tidak memilikinya, jadi aku alihkan kepada e-mail saja. Dan mereka mengerti. Pertemuan di museum yang sekarang aku berada di depannya, sangatlah berharga karena sampai detik ini aku masih berkomunikasi dengan mereka bahkan lewat media e-mail dan Instagram. Kami menjadi teman yang baik.
Sementara orang-orang semakin memadati Kota Tua. Tentu saja, karena sekarang adalah weekend ditambah terdapat panggung yang di sana ada pemain musik dan penyanyi yang menghibur para pengunjung malam ini.
Aku tetap sendirian. Atau berdua dengan temanku, dialah Kota Tua.
Kemudian, aku ingat sesuatu. Besok aku harus mengantarkan temanku ke pelabuhan. Oh, sudah jam berapa sekarang?
Aku harus menuju ke stasiun Jakarta Kota. Kembali pulang menuju orang yang sedang menungguku.
Sabarlah, aku sedang dalam perjalanan.
*
Libur sudah dimulai. Banyak teman-temanku yang mulai berkemas untuk pergi ke kampung halamannya. Seperti tahun-tahun lalu katanya, keadaan asrama pasti berantakan. Ada yang sibuk merapihkan kamar dan lemarinya, ada juga yang sibuk membungkus buku-bukunya, tidak lupa juga yang membawa oleh-oleh untuk keluarga di kampungnya. Entahlah, suasana liburan memang membuat semua ingin segera pulang ke kampung halamannya. Dan sekarang saatnya untuk mewujudkan hal itu. Kembali berkumpul dengan keluarga tercinta.
Aku mengetuk pintu kamarnya Abu Bakar. Letaknya hanya di samping kamarku. Kamu satu asrama.
"Bu....Abuuuuu....Bu!.... Assalamualaikum,"
"Wa alaikum salam! Buka aja pintunya enggak dikunci, Ki!" Terdengar suaranya dari balik pintu bahwa ia sudah mengetahui kalau aku yang akan masuk.
"Wah, ente mau pulang Bu? Sibuk banget rupanya....."
"Iya nih, Ki. Doain ya! Udah dua tahun enggak ketemu keluarga soalnya, hehehe," katanya sambil tertawa khas timur.
"Iya Abu! Ane doain ya supaya cepet dapet jodoh, hihihi,"
"Loh kok begitu, sih?" Jawabnya heran.
"Ya ente kan minta doa, ya ane doain! Salah gak ane?"
"Enggak juga sih, hehehe,"
"Emang ente kapan mau berangkatnya, Bu? Udah beli tiket? Tanyaku santai sambil duduk-duduk di kasur tingkat milik kamarnya.
"Sudah, nanti tanggal 5 Mei. Oh iya, kamu anterin aku ya? Bisa gak? Bisa ya... Bisa!"
"......."
"Yasudah, pokonya kamu nanti tidur di kamar saya aja. Kan malam Minggu tuh? Kamu pasti enggak kemana-mana, supaya besoknya kita bisa pagi-pagi ke pelabuhan, kan?" Bujuknya dengan penuh semangat.
Aku hanya pura-pura tertidur sekarang.
"Eh, Ki! Aku nitip dulu ya barang-barang ku nih masih berantakan... Aku mau keluar dulu, cari makanan, kamu mau apa?"
"Jus Sirsak aja kalo ada!" Dengan cepat aku membuka mata dan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.
Aku melihat sekelilingku.
Dalam hati :
Loh kemana orangnya? Kok cepet banget dia perginya. Jangan-jangan dia engga denger?
Ah! Jus sirsak.
"Ini ongkosnya! Abang udah makan belum? Kalo belum, makan dulu ya," kata ibuku seraya menutup tas kerjanya dan langsung bergegas pergi.
Sejenak aku melihat lembaran uang yang sekarang kupegang. Mesin motor kubiarkan menyala. Aku tidak langsung pergi ke rumah untuk kembali. Pagi ini aku memikirkan sesuatu di depan stasiun Tambun. Beberapa orang di sekitar tidak sempat aku pedulikan.
Seharusnya aku tidak lagi meminta uang kepada orangtuaku!
Hanya ungkapan dari dalam hati nuraniku.
Mengingat aku bersyukur kedua orang tuaku detik ini masih hidup bersama di dunia ini. Namun, secara fisik mereka berdua sudah semakin lemah. Dan aku masih belum bisa lepas dari meminta kepada keduanya. Tapi aku yakin, suatu saat aku pasti bisa memberi kepada keduanya, bahkan kepada setiap orang yang butuh. Aku yakin!
Setelah mengantarkan ibuku ke stasiun untuk menaiki kereta ke arah tempat kerjanya, aku putuskan kembali ke rumah meski beberapa saat hanya memandangi uang yang diberikan tadi.
Hari ini aku akan pergi ke sebuah tempat yang berada di Jakarta. Kota yang dahulu ayah terlahir di sana, besar dan tumbuh bersama mereka yang berbeda suku dan etnis. Ia dewasa dengan kerasnya kehidupan di kota kelahirannya. Kota ini pula yang menarik ibuku untuk melanjutkan sekolahnya usai lulus SMA. Gadis kampung dan polos yang tidak tahu banyak tentang Jakarta. Di Jakarta, Tuhan mempertemukan mereka berdua di tengah jutaan manusia dengan hiruk pikuknya. Tidak hanya bertemu, bahkan memulai kisah baru yang di dalamnya penuh keindahan maupun kesedihan. Terima kasih Jakarta!
Aku senang bisa berjalan-jalan, berlama-lama di Jakarta. Meski sebagian orang tidak suka dengan kota ini dengan ribuan alasannya. Aku hargai itu. Tapi, Jakarta tetap kota bersejarah bagi bangsa Indonesia, terutama untuk ayah dan ibuku.
Kota Tua yang menjadi tujuan perjalananku hari ini sangatlah padat. Sepertinya, aku salah memilih waktu. Karena aku baru berangkat setelah asar dari rumah, dan sekarang adalah malam Minggu.
Aku perhatikan setiap orang, baru kali ini aku melihat banyak orang-orang yang aneh selain diriku. Hehehe.
Aku tidak tega bila harus menyebutkan keanehan mereka, biarkan hal itu menjadi pandangan yang lewat begitu saja.
Oiya, niatku ke Kota Tua adalah ingin mengunjungi museum yang ada di sana. Karena kehadiranku terlambat, semua museum yang ada di sana sudah ditutup. Seharusnya, aku yang berangkat lebih awal!
Daripada harus cepat-cepat kembali, aku memilih berjalan-jalan dan membeli beberapa makanan ringan dengan minumannya. Aku memilih duduk di depan museum keramik. Di situ aku duduk di atas bola-bola beton besar yang aku jadikan tempat duduk. Aku jadi teringat bahwa di museum inilah dulu aku bertemu dengan 3 orang pemuda berasal dari Madinah, Saudi Arabia. Mereka kagum dengan Indonesia. Kami sempat bercakap-cakap dengan bahasa mereka, meskipun kemampuan bahasaku masih rendah, aku tetap mencoba. Kami berfoto dan mereka meminta kontak WhatsApp. Aku bilang kepada mereka bahwa aku tidak memilikinya, jadi aku alihkan kepada e-mail saja. Dan mereka mengerti. Pertemuan di museum yang sekarang aku berada di depannya, sangatlah berharga karena sampai detik ini aku masih berkomunikasi dengan mereka bahkan lewat media e-mail dan Instagram. Kami menjadi teman yang baik.
Sementara orang-orang semakin memadati Kota Tua. Tentu saja, karena sekarang adalah weekend ditambah terdapat panggung yang di sana ada pemain musik dan penyanyi yang menghibur para pengunjung malam ini.
Aku tetap sendirian. Atau berdua dengan temanku, dialah Kota Tua.
Kemudian, aku ingat sesuatu. Besok aku harus mengantarkan temanku ke pelabuhan. Oh, sudah jam berapa sekarang?
Aku harus menuju ke stasiun Jakarta Kota. Kembali pulang menuju orang yang sedang menungguku.
Sabarlah, aku sedang dalam perjalanan.
*
Libur sudah dimulai. Banyak teman-temanku yang mulai berkemas untuk pergi ke kampung halamannya. Seperti tahun-tahun lalu katanya, keadaan asrama pasti berantakan. Ada yang sibuk merapihkan kamar dan lemarinya, ada juga yang sibuk membungkus buku-bukunya, tidak lupa juga yang membawa oleh-oleh untuk keluarga di kampungnya. Entahlah, suasana liburan memang membuat semua ingin segera pulang ke kampung halamannya. Dan sekarang saatnya untuk mewujudkan hal itu. Kembali berkumpul dengan keluarga tercinta.
Aku mengetuk pintu kamarnya Abu Bakar. Letaknya hanya di samping kamarku. Kamu satu asrama.
"Bu....Abuuuuu....Bu!.... Assalamualaikum,"
"Wa alaikum salam! Buka aja pintunya enggak dikunci, Ki!" Terdengar suaranya dari balik pintu bahwa ia sudah mengetahui kalau aku yang akan masuk.
"Wah, ente mau pulang Bu? Sibuk banget rupanya....."
"Iya nih, Ki. Doain ya! Udah dua tahun enggak ketemu keluarga soalnya, hehehe," katanya sambil tertawa khas timur.
"Iya Abu! Ane doain ya supaya cepet dapet jodoh, hihihi,"
"Loh kok begitu, sih?" Jawabnya heran.
"Ya ente kan minta doa, ya ane doain! Salah gak ane?"
"Enggak juga sih, hehehe,"
"Emang ente kapan mau berangkatnya, Bu? Udah beli tiket? Tanyaku santai sambil duduk-duduk di kasur tingkat milik kamarnya.
"Sudah, nanti tanggal 5 Mei. Oh iya, kamu anterin aku ya? Bisa gak? Bisa ya... Bisa!"
"......."
"Yasudah, pokonya kamu nanti tidur di kamar saya aja. Kan malam Minggu tuh? Kamu pasti enggak kemana-mana, supaya besoknya kita bisa pagi-pagi ke pelabuhan, kan?" Bujuknya dengan penuh semangat.
Aku hanya pura-pura tertidur sekarang.
"Eh, Ki! Aku nitip dulu ya barang-barang ku nih masih berantakan... Aku mau keluar dulu, cari makanan, kamu mau apa?"
"Jus Sirsak aja kalo ada!" Dengan cepat aku membuka mata dan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.
Aku melihat sekelilingku.
Dalam hati :
Loh kemana orangnya? Kok cepet banget dia perginya. Jangan-jangan dia engga denger?
Ah! Jus sirsak.
Komentar
Posting Komentar