Setelah beberapa minggu tinggal di asrama, lambat laun aku mulai menyesuaikan seluruh kegiatan yang ada disini. Mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur, semuanya memiliki aturan dan tata tertib masing-masing, tidak semau diri sendiri, jangan sampai melanggar apa-apa yang sudah disepakati dan ditetapkan bersama. Semua sepakat, beserta dengan konsekuensi apabila mendapati sebuah pelanggaran maka harus bersedia menerima resikonya. Apapun itu. Contohnya saja, ketika bel pertanda gerbang akan dikunci, maka seluruh mahasiswa harus segera keluar kamar dan menuju ke kampus. Bagi siapa saja yang belum siap, dan masih berada di kamarnya setelah bel dibunyikan, maka harus menerima jika ternyata ia terkunci dan tidak bisa keluar, karena pintu gerbang sudah digembok! Resiko.
Sepulang dari kampus aku berniat menuju ke asrama terlebih dahulu, namun sebelum itu ternyata ada hal lain yang kemudian membawaku ke arah lantai paling atas di kampus. Disaat aku berjalan menuju asrama, aku melihat-lihat ke atas, betapa megah dan kokohnya kampus ini! Begitu menakjubkan, dahulu tanah yang hanya ditumbuhi ilalang dan rumput liar. Kini, berubah menjadi pusat pendidikan dan da'wah islam di tanah Nusantara tercinta. Bagiku, ini hal yang luar biasa!
"Semua atas izin dan kehendak-Mu ya Allah! Tanah yang dahulunya tak pernah disentuh manusia, kemudian sekarang berubah begitu drastis. Membangun sebuah peradaban Islam di tanah kelahiranku, semoga Engkau selalu memberkahi dan meridhoi tempat ini ya Allah. Aamiin!" ucapku dengan nada yang halus, sebagai bentuk syukurku kepada sang Pencipta Alam Semesta.
Disaat tengah tenggelam dalam rasa syukur kepada-Nya, mataku mengarah kepada sebuah tangga yang akhirnya menjadi jalan untukku bergegas pergi ke lantai paling atas. Yang otomatis membuatku untuk menunda niat ke asrama. Aku ingat sesuatu.
Dengan penuh rasa penasaran, tak terasa langkah cepatku menaiki satu-persatu anak tangga hingga sampai pada anak tangga yang terakhir. Dan sampailah disana dan aku menemui....
*
"Beh! Tunggu dong..."
"Iya. Iyaa.. Buruan! Udah malem nih, ngantuk." jawab Behar, sambil sesekali ia terlihat menguap.
"Sebentar...e..ee..euhmm! Ah, akhirnya masuk juga nih kaki."
"Ayo lah! Lama kau Beh, hehe."
"Yeuh!! Tadi minta ditungguin, sekarang malah ninggalin? Temen itu?!"
"Yaudah iya iyaa, maaf maaf! Lagian ni sepatu udah agak kecil, jadi sempit deh hehe" aku memberi alasan kepadanya.
Malam ini hanya aku dan Behar saja berdua berjalan keluar dari aula, karena ada kajian yang wajib kami hadiri, setelah mahasiswa yang lain sudah pergi ke asrama terlebih dahulu.
"Eh, Beh! Tunggu deh..."
"Apalagi sih? Ayo ah, jangan behenti jalannya!" ia mendesak.
"Sebentar aja! Itu liat deh, ada tangga Beh."
"Hmm..." kelihatannya ia mulai malas menanggapi.
"Itu tangga mengarah ke lantai atas deh kayaknya."
"Terus? Ente mau naik ke atas sekarang? Mau ngapain Ki? Ayo ah, udah malem ini!" sambil menarik lenganku ia berjalan cepat dan berhasil membawaku pergi hingga keluar.
"Kenapa sih, Beh? Pegang-pegang tangan ane segala? Udah kayak di film-film aje! Atau jangan-jangan ente... Ih! Lepasin tangan ane!!" aku memaksa melepaskan pegangan darinya.
"Yeuh! biar kata disini ikhwan semua. Ane tetap lelaki tulen, Ki! Afwan, hehe"
"Yaudah, terus ngapain barusan megangin tangan ane terus?"
"Abisnya, ente sih. Ane bilang ini udah malem, ngantuk. Segala pake acara nanyain tangga segala. Emangnya ente mau ngapain sih?"
"Ane penasaran, kayaknya itu tangga yang mengarah ke lantai paling atas deh? Ane pengen kesana, Beh."
"Oh. Yaudah silakan sana! Monggo! Hehe."
"Ente ngapain narik ane sampe kesini, kalo ujung-ujungnya malah disuruh naik tangga? Ngeselin!"
"Ki! Ente sadar ga sih? Ini tuh udah malem, liat! Mana ada orang disekitar sini? Nanti kalo ada apa-apa siapa yang mau tanggung jawab? Udah lah, kapan -kapan aja ke lantai atasnya!" ungkapnya senada dengan memberi nasihat.
"Hehe yaudah, santai aja dong qaqa jangan marah gituh :)" aku merayunya.
"Siapa yang marah?" tanyanya.
"Hehe iyaudah iya. La Tahzan wa La Taghdhab!"
"Eh, Ki! Tunggu!"
"Apalagi?" aku mendengar suaranya dibelakang pundakku.
"Anterin ane ke depan yuk? Ane mau beli nasgor, laperrr nih!"
"Hmm... Maaf, ane ngantuk!"
"Yahh, oh..oh ane paham! Yaudah ane bayarin ente, mau engga?"
"Ayoo! Lama sekali gerakannya!"
"Eh...eh, dasar! tunggu dong!"
*
Beberapa hari yang lalu aku penasaran sekali dengan tangga ini! Sekarang, akhirnya aku bisa melalui nya. Meski, Behar tidak ada bersamaku, aku merasa cukup hanya aku saja yang mengetahui tempat ini.... Segala Puji Bagi Allah Sang Pencipta Jagat Raya ini beserta isinya. Allahu Akbar!
Sepulang dari kampus aku berniat menuju ke asrama terlebih dahulu, namun sebelum itu ternyata ada hal lain yang kemudian membawaku ke arah lantai paling atas di kampus. Disaat aku berjalan menuju asrama, aku melihat-lihat ke atas, betapa megah dan kokohnya kampus ini! Begitu menakjubkan, dahulu tanah yang hanya ditumbuhi ilalang dan rumput liar. Kini, berubah menjadi pusat pendidikan dan da'wah islam di tanah Nusantara tercinta. Bagiku, ini hal yang luar biasa!
"Semua atas izin dan kehendak-Mu ya Allah! Tanah yang dahulunya tak pernah disentuh manusia, kemudian sekarang berubah begitu drastis. Membangun sebuah peradaban Islam di tanah kelahiranku, semoga Engkau selalu memberkahi dan meridhoi tempat ini ya Allah. Aamiin!" ucapku dengan nada yang halus, sebagai bentuk syukurku kepada sang Pencipta Alam Semesta.
Disaat tengah tenggelam dalam rasa syukur kepada-Nya, mataku mengarah kepada sebuah tangga yang akhirnya menjadi jalan untukku bergegas pergi ke lantai paling atas. Yang otomatis membuatku untuk menunda niat ke asrama. Aku ingat sesuatu.
Dengan penuh rasa penasaran, tak terasa langkah cepatku menaiki satu-persatu anak tangga hingga sampai pada anak tangga yang terakhir. Dan sampailah disana dan aku menemui....
*
"Beh! Tunggu dong..."
"Iya. Iyaa.. Buruan! Udah malem nih, ngantuk." jawab Behar, sambil sesekali ia terlihat menguap.
"Sebentar...e..ee..euhmm! Ah, akhirnya masuk juga nih kaki."
"Ayo lah! Lama kau Beh, hehe."
"Yeuh!! Tadi minta ditungguin, sekarang malah ninggalin? Temen itu?!"
"Yaudah iya iyaa, maaf maaf! Lagian ni sepatu udah agak kecil, jadi sempit deh hehe" aku memberi alasan kepadanya.
Malam ini hanya aku dan Behar saja berdua berjalan keluar dari aula, karena ada kajian yang wajib kami hadiri, setelah mahasiswa yang lain sudah pergi ke asrama terlebih dahulu.
"Eh, Beh! Tunggu deh..."
"Apalagi sih? Ayo ah, jangan behenti jalannya!" ia mendesak.
"Sebentar aja! Itu liat deh, ada tangga Beh."
"Hmm..." kelihatannya ia mulai malas menanggapi.
"Itu tangga mengarah ke lantai atas deh kayaknya."
"Terus? Ente mau naik ke atas sekarang? Mau ngapain Ki? Ayo ah, udah malem ini!" sambil menarik lenganku ia berjalan cepat dan berhasil membawaku pergi hingga keluar.
"Kenapa sih, Beh? Pegang-pegang tangan ane segala? Udah kayak di film-film aje! Atau jangan-jangan ente... Ih! Lepasin tangan ane!!" aku memaksa melepaskan pegangan darinya.
"Yeuh! biar kata disini ikhwan semua. Ane tetap lelaki tulen, Ki! Afwan, hehe"
"Yaudah, terus ngapain barusan megangin tangan ane terus?"
"Abisnya, ente sih. Ane bilang ini udah malem, ngantuk. Segala pake acara nanyain tangga segala. Emangnya ente mau ngapain sih?"
"Ane penasaran, kayaknya itu tangga yang mengarah ke lantai paling atas deh? Ane pengen kesana, Beh."
"Oh. Yaudah silakan sana! Monggo! Hehe."
"Ente ngapain narik ane sampe kesini, kalo ujung-ujungnya malah disuruh naik tangga? Ngeselin!"
"Ki! Ente sadar ga sih? Ini tuh udah malem, liat! Mana ada orang disekitar sini? Nanti kalo ada apa-apa siapa yang mau tanggung jawab? Udah lah, kapan -kapan aja ke lantai atasnya!" ungkapnya senada dengan memberi nasihat.
"Hehe yaudah, santai aja dong qaqa jangan marah gituh :)" aku merayunya.
"Siapa yang marah?" tanyanya.
"Hehe iyaudah iya. La Tahzan wa La Taghdhab!"
"Eh, Ki! Tunggu!"
"Apalagi?" aku mendengar suaranya dibelakang pundakku.
"Anterin ane ke depan yuk? Ane mau beli nasgor, laperrr nih!"
"Hmm... Maaf, ane ngantuk!"
"Yahh, oh..oh ane paham! Yaudah ane bayarin ente, mau engga?"
"Ayoo! Lama sekali gerakannya!"
"Eh...eh, dasar! tunggu dong!"
*
Beberapa hari yang lalu aku penasaran sekali dengan tangga ini! Sekarang, akhirnya aku bisa melalui nya. Meski, Behar tidak ada bersamaku, aku merasa cukup hanya aku saja yang mengetahui tempat ini.... Segala Puji Bagi Allah Sang Pencipta Jagat Raya ini beserta isinya. Allahu Akbar!
Komentar
Posting Komentar