Pukul 03.23 pagi. Suara alarm telah berdering 3 menit yang lalu. Namun suara air yang terus berjatuhan dari luar asrama membuat suara alarm sangat lemah. Mungkin jutaan tetes atau bahkan milyaran tetesan dari langit terus berjatuhan sejak ba'da isya, membuat udara semakin dingin dan tanah tak lagi mengeras kekeringan. Dan disaat ini pula, semakin enggan untuk membuka mata yang sedang tertutup menikmati bunga-bunga tidur.
Setelah semalaman berusaha keras memahami bahasa Arab, hingga terlelap ditengah buku-buku yang berserakan ditempat tidur. Memang seperti inilah kehidupan setelah menjadi Mahasiswa. Kurang teratur dalam merapihkan buku, hehe.
Meski setiap malam seperti ini terus. Sampai saat ini, hasilnya belum terlihat. Masih belum.
"Beh... Beh! Bangun Beh, katanya mau ngasih tau rahasianya? Beh!!"
"Uuuhh, kenape sih? Usil banget, orang lagi enak-enak mimpi Indah!"
"Itu, Beh. Yang ane bilang.... "
Meski terlihat sangat berat matanya, dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya, ia tetap berusaha meresponku. Sungguh luar biasa, hehe.
"Bahasa Arab?" ia mencoba menebak.
"Nah iya Beh, ane kok sulit banget ya memahami bahasa Arab. Kenapa ya kira-kira?"
"Kenapa hayoooo? Hehehe" jawabnya sambil meledek.
"Eh, serius nih! Ane kok engga kayak ente bisa paham kalo dosen lagi nerangin? "
"Ane dua rius malah! Hihi"
"BEEEHHH!"
"Wehhh, oke oke. Selow ae kali, gausah melotot gitu. Biasa aje udah serem, ditambah lagi ente melotot Ki, makin syeremm!"
Sambil menaruh bukunya, ia mulai berbicara dan menjelaskan suatu hal tentang pertanyaanku tadi.
"Ki, ente pernah engga denger pernyataan kayak gini 'cita-cita lo tuh ketinggian'?"
"Hmm.. Oiya iya, pernah! Barusan, sekitar 3 detik yang lalu, hehe"
"Yaudah, GAJADI!"
"Yeh, lanjutlah... Pelis dong!!!"
"Situ sih yang mulai! Oke, jadi sebenernya kalo menurut ane cita-cita itu engga ada yang ketinggian, yang ada usaha kita yang kurang tinggi. Paham ga kira-kira sampe sini?"
"Hmm.. "
"Mungkin, sekarang ente sulit memahami bahasa Arab, Ki. Tapi kalo ente bercita-cita untuk bisa memahami bahasa tersebut apa itu salah? Nah, sekarang tinggal usaha entenya aje yang ditingkatin. Paham?"
"Iya iya, Beh. Ane rada paham nih setelah dapet pencerahan dari ente, hehe"
Tanpa menunggu waktu lama kemudian ia pun menutup matanya kembali dan melanjutkan menikmati bunga tidurnya yang mulai bersemi.
"Tapi, Beh. Kalo ane bercita-cita bisa liburan ke Andalusia gimana? Kira-kira bisa kesana engga ya?"
"Beh?"
***
Setelah semalaman berusaha keras memahami bahasa Arab, hingga terlelap ditengah buku-buku yang berserakan ditempat tidur. Memang seperti inilah kehidupan setelah menjadi Mahasiswa. Kurang teratur dalam merapihkan buku, hehe.
Meski setiap malam seperti ini terus. Sampai saat ini, hasilnya belum terlihat. Masih belum.
"Beh... Beh! Bangun Beh, katanya mau ngasih tau rahasianya? Beh!!"
"Uuuhh, kenape sih? Usil banget, orang lagi enak-enak mimpi Indah!"
"Itu, Beh. Yang ane bilang.... "
Meski terlihat sangat berat matanya, dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya, ia tetap berusaha meresponku. Sungguh luar biasa, hehe.
"Bahasa Arab?" ia mencoba menebak.
"Nah iya Beh, ane kok sulit banget ya memahami bahasa Arab. Kenapa ya kira-kira?"
"Kenapa hayoooo? Hehehe" jawabnya sambil meledek.
"Eh, serius nih! Ane kok engga kayak ente bisa paham kalo dosen lagi nerangin? "
"Ane dua rius malah! Hihi"
"BEEEHHH!"
"Wehhh, oke oke. Selow ae kali, gausah melotot gitu. Biasa aje udah serem, ditambah lagi ente melotot Ki, makin syeremm!"
Sambil menaruh bukunya, ia mulai berbicara dan menjelaskan suatu hal tentang pertanyaanku tadi.
"Ki, ente pernah engga denger pernyataan kayak gini 'cita-cita lo tuh ketinggian'?"
"Hmm.. Oiya iya, pernah! Barusan, sekitar 3 detik yang lalu, hehe"
"Yaudah, GAJADI!"
"Yeh, lanjutlah... Pelis dong!!!"
"Situ sih yang mulai! Oke, jadi sebenernya kalo menurut ane cita-cita itu engga ada yang ketinggian, yang ada usaha kita yang kurang tinggi. Paham ga kira-kira sampe sini?"
"Hmm.. "
"Mungkin, sekarang ente sulit memahami bahasa Arab, Ki. Tapi kalo ente bercita-cita untuk bisa memahami bahasa tersebut apa itu salah? Nah, sekarang tinggal usaha entenya aje yang ditingkatin. Paham?"
"Iya iya, Beh. Ane rada paham nih setelah dapet pencerahan dari ente, hehe"
Tanpa menunggu waktu lama kemudian ia pun menutup matanya kembali dan melanjutkan menikmati bunga tidurnya yang mulai bersemi.
"Tapi, Beh. Kalo ane bercita-cita bisa liburan ke Andalusia gimana? Kira-kira bisa kesana engga ya?"
"Beh?"
***
Komentar
Posting Komentar