Hari berganti, musim pun berubah. Masa yang telah berlalu semakin jauh aku tinggalkan. Jauh. Masa depan yang belum terlihat nampak sama saja– jauh. Itu lah sebagian hal gaib yang patut disepakati. Aku tidak berhasil menangkap dengan sempurna kilatan-kilatan tentang masa lalu dan apalagi masa yang akan datang. Semuanya terbilang indah di masa lalu, kata mereka. Namun masa depan sangat lah penting untuk ku, kata mereka juga. Mendengarkan perkataan orang lain sangatlah penting, namun pilihan tetap pada diri sendiri. Terlalu mendengarkan dan menuruti perkataan orang lain justru itu lah penyebab dari sebuah masalah. Jadi, hari ini hanyalah milik diriku, dan aku hanya hidup untuk hari ini, aku tidak akan menunda kebaikan apa pun, karena hari esok sebuah misteri. Perkataan yang baik akan aku terima, tidak berlaku jika itu hal yang buruk bagi ku.
Perkataan seseorang yang baik akan aku gunakan dalam perjuangan ku hari ini. Hari kemarin sudah lah terkunci di dalam sebuah peti baja dengan rantai dan gembok besi yang sengaja dibuat sedemikian rupa kemudian ditenggelamkan di palung laut yang sangat gelap karena kedalamannya tak mampu ditembus cahaya bahkan tak seorang pun mampu menjangkaunya kesana apalagi berpikir untuk membuka ikatan rantai dari peti tersebut, itu lah hari yang telah berlalu! Tak mungkin aku bisa menjangkaunya kembali apalagi bisa mengharapkan keadaan seperti dahulu; tidak mungkin karena peti telah tenggelam dan tak mungkin bisa dibawa kembali menuju daratan. Kira-kira ini lah perumpamaan dari masa yang telah terlewati.
Menjadikan orang lain paham akan semua hal yang kita maksud dalam bentuk tulisan itu tidak mudah. Salah paham adalah hal yang biasa, namun jangan sampai dibiasakan. Aku ingin sekali menulis hal yang bermanfaat untuk agama ku, untuk ku, untuk orang-orang di sekitar ku, dan untuk siapa pun yang merasa butuh akan tulisan ini. Menulis menjadi pelarian ku belakangan ini. Dengan menulis, aku bebas dalam tawa, teriak, atau bahkan menangis dengan pena yang terus menari-nari membentuk puluhan paragraf atau mungkin ratusan.
Keadaan yang begitu drastis. Sekarang tak ada lagi jawal di kedua tangan ku. Dahulu sibuk dengan media yang terkadang memaksa ku untuk menjadi anti-sosial gara-gara media sosial. Aneh! Adalah buku-buku dan surat kabar menjadi sahabat paling akrab di setiap keadaan ku saat ini. Berbeda dengan kawan-kawan ku yang dahulu. Aku jarang mengetahui kabar mereka. Namun aku ingin mereka dalam keadaan baik-baik saja dan semoga kami tetap berada di jalan yang sama.
Sore ini, yang aku ingat sekarang adalah bulan Maret di tahun 2018 masehi, namun aku tidak tahu pasti sekarang tanggal berapa. Aku harap aku selalu ingat hal ini, bahwa aku tidak memaksakan diriku untuk hal yang belum aku ketahui esok hari, aku tidak pernah membeli masa depan seseorang dengan janji atau pun sebaliknya. Yang aku lakukan hanya untuk hidup hari ini, usia ku hanya hari ini, aku akan dan harus bersungguh-sungguh dalam segala hal apalagi dalam kebaikan! Aku harap kawan semua memahaminya, meski sulit. Maafkan aku yang tak pernah bergaul lagi dengan kalian seperti dulu, lewat canda tawa walau terlihat bodoh dengan tertawa melalui rangkaian huruf 'wkwkwk' konyol bukan? Ya, sekarang masa itu telah terkunci di dalam peti dan tenggelam berada di dasar laut sangat gelap. Dan hanya kegelapan, itulah sebagian dari masa lalu "?"
*
"Ki, ini kunci dapur! Besok bagian kamar mu yang masak, tepat waktu ya sarapannya!! Awas lho kalo makanannya engga enak, nanti aku beri!! he he he."
"...."
Komentar
Posting Komentar