Dirimu kadang ditunggu-tunggu
Terkadang dirundung sendu
Hati ku membeku
Menjawab pertanyaan, dimana kamu?
Malam demi malam. Selalu berbeda dengan malam sebelum, sekarang, dan selanjutnya. Mengapa? oh, seharusnya jangan tanya mengapa karena itu tidak penting. Lebih tepat tanyakan, bagaimana? bagaimana seseorang menjalani hidupnya malam demi malam, sementara ia selalu menunggu pagi hari? bagaimana seseorang menjalani mimpi-mimpinya sementara ia tertidur di sore hari? bagimana seseorang mencintai waktu fajar, sedangkan dia lebih senang bersama puncak malam hari?
Tidak aneh? mungkin kata-kata ini dapat menafsirkan perasaan yang ingin terbit di sebuah pedesaan yang terletak di balik gunung paling timur nusantara. Perasaan yang seharusnya terbit dan bersinar menerangi gelapnya desa nan abu, menghangatkan kampung yang beku, mencerahkan hati yang sedikit keliru tentang rindu. Rindu?
Kata itu, sudah lama tidak terdengar oleh telinga ini, sudah lama tidak terbaca oleh mulut kasar ini. Hanya menemukan kata Rindu yang amat palsu di dunia ini yang semakin ambigu. Harus segera diakhiri! karena sebentar lagi akan terbit. Rindu yang pasti. Perasaan yang tenggelam kala itu, akan terbit kembali! jangan kalian halangi sinarnya, supaya desa dan hati itu dapat merasakan hangatnya dari sinar yang tengah terbit melepaskan beban dari masa lalu. Masa lalu yang biru dan penuh kata yang keliru, namun kadang selalu diingat bahkan ditunggu-tunggu. Itu kah Rindu?

Komentar
Posting Komentar