Selepas shalat jumat aku berkumpul dengan
kawan-kawanku di pelataran Masjid, diketuai oleh teman sekelasku juga. Ia
bertindak sebagai ketua pelaksana dalam kegiatan yang akan kami selenggarakan
nanti, insya Allah.
Masing-masing ketua seksi mulai memaparkan
rencananya kepada si ketua. Kami menjadi saling mendengarkan satu sama lain. Dibarengi
candaan khas mahasiswa, membuat
suasana kurang begitu serius. Ya, inilah rapat yang sebenarnya! Aku pikir tidak
beda jauh juga suasana rapat di gedung yang megah di parlemen sana, penuh candaan? Hehe
Bukan suasana rapat yang ingin aku lontarkan
sebetulnya. Tapi, sebuah perjalanan yang cukup membuat tenaga dan pikiranku dan
Dimas terkuras hampir habis. Mengapa? Karena, setelah rapat usai, aku dan Dimas
diutus untuk menemui percetakan yang ada di Jakarta, tepatnya percetakan yang
paling murah demi kelancaran rencana kita bersama, sebagaimana hasil rapat
tadi.
Tidak butuh waktu lama. Aku dan Dimas langsung bersiap-siap ke asrama menyiapkan baju yang pantas, merapikan rambut (meski rambutku pendek), membasuh muka agar terlihat segar, dan menyiapkan keperluan lainnya untuk pergi ke sana. Setelah semua sudah siap, kami berdua berjalan kaki menuju stasiun terdekat.
Perjalanan Bekasi-Jakarta, seharusnya aku tempuh secara normal. Namun hari ini berbeda, kereta yang kita tumpangi mengalami keterlambatan dan tertahan di Cipinang, sebelum masuk stasiun Jatinegara. Jam tangan Dimas menunjukkan hampir pukul 5, matahari sudah lama tergelincir, bahkan sekarang ia agak merah menyala. Sore. Aku memutuskan untuk mengajak Dimas berhenti di stasiun Jatinegara saja untuk menunaikan shalat asar sekalian memilih menu makanan di warung makan.
Meskipun tujuan kami ke stasiun Pasar Senen, aku memilih untuk berhenti di sini saja. Aku pikir di Jatinegara banyak tempat percetakan, apalagi yang paling murah, hehe. Setelah shalat kami pun mulai melangkahkan kaki menuju keluar stasiun yang cukup asing. Suara bising kereta dengan segala pengumuman dari operator, atau orang-orang yang melintas ke sana-sini tanpa ada senyuman, juga mereka yang baru saja sampai dari perjalanan jauh dan turun di sini (stasiun Jatinegara) membawa barangnya berupa koper, tas besar, dan tak lupa plastik oleh-oleh khas dari daerah tempat mereka kunjungi. Mereka sampai di stasiun Jatinegara.
Meski aku ragu, Dimas aku perintahkan untuk tetap mengikuti kemana pun aku pergi. Aku melihat kanan dan kiri, seperti tidak ada tanda-tanda adanya percetakan. Aku dan Dimas berjalan ke arah pasar Rawa Bunga, yang di sana banyak sekali batu akik, bermacam-macam. “Kayaknya kita salah deh, Dim!” aku mendengar suaraku ketika mulai menyadari bahwa yang kami masuki tidak sesuai dengan harapan kami. Kami putar balik dan mulai bertanya kepada orang-orang, hingga akhirnya kami harus berjalan memutar arah menuju tujuan kami sekarang yang entah dimana ujungnya, Oh Percetakan!
Di sepanjang trotoar banyak bangunan berderet, ruko yang dihuni wajah oriental dan beberapa hadromiy. Mereka menjemput rejeki dengan cara berbisnis, ada yang berjualan elektronik, barang-barang rumah, pakaian, sepatu dan sandal, lampu, obat, minyak wangi grosiran, bahkan sepeda-sepeda unik bagi anak pun ada. Kami melintasi mereka semua di pinggir trotoar. Dimas berjalan dengan gaya khasnya yang santai. Aku berjalan sesekali menengok ke arah ruko-ruko itu. Sekali aku menangkap seorang cina tua yang duduk menunggu pelanggannya di depan toko sepatu yang ia miliki, terlihat lesu, ia rela menunggu hingga sore hari hanya untuk menuai rupiah. Kerongkongannya yang sudah mengecil dan jakun yang hampir hilang. Atau seorang ibu berwajah Yaman dengan tiga orang anaknya (2 lelaki berusia sekitar 4 & 8 tahun, dan seorang perempuan ampir 14 tahun) di toko sepeda yang sedang tawar- menawar harga dengan si wajah oriental, mereka terlihat akrab dan mesra tanpa ada rasa canggung meski berbeda ras, akhirnya seorang pesuruh dari Jawa mulai menyiapkan sepeda yang telah disepakati harganya itu. Kurang lebih begitulah. Sore, di Jatinegara.
Tak terasa, akhirnya kami sekarang tepat di depan percetakan yang kami tuju. Tak ambil pusing, aku langsung masuk ke sana dan meninggalkan Dimas di belakangku. Beberapa pertanyaan yang aku lontarkan kepada pegawai hanya berupa basa-basi, intinya aku ingin harga yang murah dan mereka sepakat denganku! Dan lihatlah apa yang terjadi. Aku berhasil merayu pegawainya sehingga kami bisa menuai kesepakatan. Harga yang cocok dan kualitas yang baik, inilah kelebihanku. Hehe.
Hanya itu saja. Ke Jakarta, dan tidak butuh waktu lama di percetakan. Oke!
Aku keluar untuk pulang ke asrama dengan penuh rasa bangga dan meminta beberapa kartu nama. Namun, ketika berjalan menyusuri trotoar, aku merasa ada yang aneh? Aku tau, pedagang dimana-mana. Tapi ada yang berhasil menyita mataku sehingga memaksanya harus melihat kepada tumpukan buku-buku yang sudah lama. Aku pikir, siapa yang akan membelinya? Aneh sekali, buku-buku lama diperjual belikan di pinggiran trotoar yang mestinya hak kami pejalan kaki. Aku dan Dimas melintasi penjual dan barangnya berupa buku-buku lama, kebanyakan buku paket sekolah yang memuat pelajaran umum seperti, sejarah, IPA, IPS, dan yang lainnya, ada beberapa novel dan buku lain yang dijual. Di sini aku harus mengakui bahwa aku tertarik pada buku-buku lama yang tertumpuk ini. Dan, Ah! Aku memaksa Dimas untuk berhenti sejenak melihat-lihat apa saja judul bukunya. Awalnya aku hanya melihat judul dan penulisnya saja, sekitar 5 menit kami berjongkok, mengambil satu persatu buku-buku itu dan menanyakan harganya, sesekali terdengar klakson mobil dan motor karena jarak yang dekat dengan kami sekarang, kemudian aku terbesit melihat sebuah buku lawas, dia adalah Sutan Takdir Alisjahbana yang pernah berkarya di negeri ini. Karya klasik yang dibukukan langsung aku ambil dan tidak peduli akan harganya. Aku langsung jatuh cinta pada buku ini. Dimas masih melihat-lihat buku yang lain, namun aku sudah mendapatkan barang yang tidak terduga dalam perjalanan kami sore ini, buku inilah yang akan menemaniku lagi. Dua puluh lima ribu rupiah untuk sebuah karya klasik. Aku tidak keberatan, dan aku pikir di toko-toko buku sekarang sudah jarang dan tidak ada yang menerbitkan karya yang seperti ini lagi?
Setelah ia menemukan bukunya, kami pun melanjutkan perjalan pulang ke asrama.
Sore ini menjadi kisah yang romantis antara aku dan
bukuku sekarang. Sepanjang perjalanan pulang, aku tak bosan memandangi sampul
dan sesekali kubaca bagian pertamanya. Aku tidak ingin buku ini dibaca ditengah
keramaian orang banyak. Aku akan membaca buku ini, nanti ketika tenang, di
ruangan yang sunyi dan hanya aku berdua dengan buku ini. Sayang!
Sepanjang perjalanan berangkat dan pulang, aku dan Dimas sama sekali tidak membawa apa yang sering disebut Smartphone, kami bermodal tenaga dan semangat. Aku pikir alat komunikasi yang paling canggih adalah mulut manusia, karena sering digunakan untuk bicara, dan seluruh bagian tubuhnya pun sama. Karena dengannya, manusia bisa melakukan apapun yang tidak dapat dilakukan oleh binatang bahkan Smartphone sekalipun. Ia bisa berkomunikasi dengan orang lain kapanpun dimanapun. Walaupun sebagian dengan cara gerakan tubuh, intinya komunikasi tetap berjalan. Inilah betapa canggihnya manusia, apalagi Dia yang Maha Menciptakan yang membuat semua ini dengan rancangan yang sesuai. Ini sebuah karya Tuhan. Super canggih.
*
Dimas teman sekelasku. Dia orang Kendal, Jawa Tengah, badannya kurus dan berkacamata. Jago bahasa Jepang serta mengerti kristologi bahkan ia bisa baca bahasa Ibrani sedikit-sedikit. Hobinya menjelajahi alam dan membaca buku-buku yang mengandung sejarah. Sejauh ini dia tertarik pada wanita. Dia juga duduk di bangku yang bersebelahan denganku paling depan, ia sebelah kananku. Sekarang, kami berdua. Dimas di sebelahku duduk dekat supir elf, dari stasiun Bekasi dan kami akan turun di Tambun dengan badan yang lemas dan mata yang mengantuk. Namun semua yang terjadi selama perjalanan hari ini sungguh indah, terima kasih ya Allah, Tuhan alam semesta!
Komentar
Posting Komentar