I/VII
Hari mengubah udara menjadi dingin
Bulan begitu cepat berlalu, pasca tragedi itu
Mencium aroma kopi hangat di meja teras beranda
Janji-janji berhamburan keluar seperti biri-biri
Pria tua itu duduk lesu di bangku halte sore hari
II/VII
Kamar mandi kering tak ada yang bermandi
Dua pekan lebih, air mata selalu mendidih
Jarak ibu kota menjadi dekat dicumbu arah
Melihat sepatu 'besi' di jalan sabang setiap hari
Si Nenek sabar menunggu belahan hati dan duduk di taman suropati
III/VII
Tukang roti menjemput padi : pagi, siang hingga malam hari
Tubuh lemah dibalut minyak dilabeli kasturi
Jalan aspal hitam selalu di injak-injak dengan amarah
Warna tubuh dan matamu tiba-tiba menyapaku
Hujan, tak berarti bagi sepasang hati yang ingin berlari
IV/VII
Gunung merapi lelah berkonsentrasi
Pedagang bakpao menyapa sultan tanpa basa-basi
Tumpahan air bunga mendarat di tempat darah para pujangga
Lidah kelu tidak tau cara menyapa waktu
Gelapnya hari tanda hujan menggiring mereka mencari tempat bediri
V/VII
Ribuan bayi menyapa cakrawala setiap hari
Ibunda cemas akan harga-harga meninggi tiada henti
Tanah kering menyapa pantai dan pohon-pohon cemara hilang entah dimana
Hariku tidak jarang hanya ada bujuk rayu dan sendu
Si mata sipit merajut cinta suci dengan penghijrah jauh dari negeri tak berpadi
VI/VII
Sarung kotak-kotak membalut batu mirip arjuna di Bali
Jari-jari bisu menghiasi malam sampai dini hari
Ku tatap lagi, dua kali Nona ingin pergi ke ujung dermaga
Sinar matahari terus menjilati rambut pirangnya yang alami
Manusia mirip J.P Coen menjemput ajal ditengah negeri pembaharu
VII/VII
Keledai tertawa melihat sarjana sakau di lubang apati
Buku-buku sejarah menumpuk di setip gudang rezim terpatri
Malam itu tersenyum mendengar ocehan cinta saat duduk bersama
Daging sapi di piring keramik sementara peternak tidur pulas di gubuknya
Tawa kita menjelma menjadi cerita tanpa ada rasa ragu di ujung rindu
20:09 2019
x

Uhuuuuuy, pening bosku
BalasHapus