Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Pesma #9

2 Juli 2018 Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah setelah kami melewati masa libur ramadhan tahun ini. — Satu hari, bahkan satu minggu sebelum tanggal masuk kuliah, sebagian mahasiswa telah tiba di asrama. Kembali menempuh jalan panjang untuk menuntut ilmu, melawan rintangan yang menghadang— rasa bosan. Dan sebagian lain belum hadir tepat waktu mungkin disebabkan pemesanan tiket pesawat yang tidak sesuai jadwal masuk kuliah atau berbagai alasan lain yang membuat mereka terlambat datang ke asrama. Baiklah, hal itu memang sudah biasa terjadi di asrama sejak dulu, katanya. Dari mulai tas-tas besar, koper, dan kardus yang berisi buah tangan dari kampung halaman yang setiap mereka bawa, kini turut memadati isi kamar di setiap asrama. Hal itu membuat volume sampah untuk beberapa hari kedepan akan meningkat drastis! Hehe Lama perjalananan yang ditempuh masing-masing mahasiswa berbeda. 1-6 jam bagi mereka yang kampung halamannya masih di kawasan Jawa barat, DKI Jakarta, dan Bante...

Udara sejuk di selatan pulau Jawa

"Istana bukan cuma di Merdeka Utara, Indonesia juga bukan hanya Jakarta." — Najwa Shihab, Presenter berita, jurnalis dari Indonesia Sumber: Di Balik Dinding Istana Saya setuju dengan kutipan seorang tokoh di atas. Dalam segala hal, ia melihat dari sudut pandang yang berbeda. Hampir sama dengan saya, selalu ingin melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, tidak sama dengan orang-orang di sekitar. Seperti pandangan saya tentang Indonesia, misalnya. Jika ada yang berpendapat bahwa Jakarta sebagai tolok ukur dari Indonesia, maka saya sangat berbeda dengannya. Jakarta tidak bisa menjadi tolok ukur bangsa ini, karena Indonesia bukan hanya Jakarta saja, sebagaimana kutipan di atas. Masih banyak kota dan kabupaten yang sangat menarik untuk dijadikan tempat referensi dan menguatkan bahwa Indonesia bukan hanya di Jakarta saja. Entah itu dari segi sosial, budaya, ekonomi, atau dari segi keagamaannya.  Belakangan ini, saya berkunjung ke sebuah kota di bagian pali...

9 Ramadan 1439 Hijriah

24 Mei 2018 jatuh pada hari Kamis. Hari ke-dua puluh empat di bulan Mei ini sangat penting untuk kita. Khususnya masyarakat Indonesia. Mengapa? Terang saja. Tanggal tersebut sama dengan tanggal 9 Ramadan 1439 Hijriah . Dimana puluhan tahun yang lalu bangsa Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya. Tepatnya pada hari Jumat, 9 Ramadan 1364 H. Di bulan Ramadan inilah, para nenek moyang kami merayakan kemerdekaan. Terlepas dari kolonialisme. Tentu semua atas ijin Allah yang Maha Esa. Mereka berjuang dengan tenaga, waktu, harta, bahkan nyawa sekalipun demi sebuah kata MERDEKA! Penjajahan yang dilakukan bangsa Belanda mengakibatkan rakyat Indonesia dahulu sangat sengsara. Sangat menderita. Namun, berkat usaha (ikhtiar) dan bersatunya masyarakat nusantara untuk melawan penjajah, maka dengan pertolongan Allah, pria yang gagah itu berhasil memproklamirkan bahwa Indonesia telah merdeka dari penjajahan. Pria itu adalah Soekarno, bapak proklamasi Indonesia. Terima kasih, Pak! Kini, ...

Setahun Kepergian mu

Satu tahun aku menunggu Saat-saat seperti ini Kedatangan mu menentramkan hati Akhirnya, kita kembali berjumpa Di tengah sinar matahari yang mulai kemerahan. Sinar hangat membungkus tubuh yang lemah ini. Doa terbaik sudah sepantasnya aku panjatkan. Syukurlah! Kita dapat dipertemukan, setahun waktu menunggu. Tak terasa, kini kamu hadir kembali dihadapan ku. Aku tahu, dahulu aku pernah bertemu dengan mu, aku harap kamu bisa melupakan semua dosa dan kesalahan ku waktu itu. Saat-saat seperti ini, mari kita rajut kembali! Sebuah doa menuju sang ilahi. Kepergian mu hanya membuat ku semakin rindu. Kini, setelah melihat mu, hati ku tentram bagai dibalut embun pagi yang berasal dari timur selat malaka. Aku ingin, semua kebaikan selalu menyertai sampai pada akhirnya kamu memutuskan dan harus segera pergi. Aku tahu, kamu pasti kembali setahun setelah nanti kita berpisah. Namun, aku harap aku akan bisa berjumpa kembali dengan mu. Di tahun selanjutnya, yang selalu dirindu. Bulan ramadan, akhirn...

Fase labil putih biru

Dahulu aku pernah berkata. Aku menyukai. Aku kamu ingini. Kamu hanya akan denganku. Dahulu aku mengira. Dunia mudah aku kendalikan. Angin bisa aku hentikan. Dan cinta sesuai dugaan. Supaya kamu menebar senyuman.... I Ha ha! Kebodohan adalah pintu sebuah penyesalan Dahulu aku bermain dan berdansa dengan semua jenis kebodohan Sampai terperangkap di dalam sebuah gudang penistaan Karenanya, kamu aku kenal melalui fase pergaulan II Jiwa muda jiwa tak kenal lelah sekaligus buta arah Dahulu aku merasa tenang untuk kesana, ternyata sadar itu adalah salah Mungkin aku menanam benih janji di depan halaman rumahmu Yang ternyata, kamu dapati tak pernah tumbuh hingga saat ini meski kamu terus menunggu dan menyiraminya dengan harapan disertai dengan pupuk kerinduan Kamu ingin kepastian III Angin menggiring jiwaku menuju arah kedewasaan Aku tahu, dahulu kita ingin menyatu Seperti buku-buku yang telah berpadu Namun, itu semua hanyalah warna yang semu Dan akhirnya, kamu menutup ...

Pacaran Islami

(a pict shoot by Fujica M1 with Kodak Gold 200) Wahai, saudara dan saudariku seiman dan seakidah! Mencintai Allah dan Rasul-Nya merupakan kewajiban setiap insan yang beriman dan bertaqwa. Bahkan rasa cinta kita kepada rasul pun harus lebih besar daripada kecintaan kita kepada ibu kita sendiri, bukan? Apalagi, kecintaan kita kepada Sang Maha Pencipta jagat raya ini, harus melebihi kecintaan kita dari segala apa pun termasuk diri kita sendiri. Karena sholat kita, pengorbanan kita, hidup kita, dan mati kita hanyalah karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak kepada selain-Nya. Harus kita ketahui bahwasannya kita adalah manusia yang lemah, tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun, kecuali daya dan kekuatan itu diberikan atas ijin Allah subhanahu wa ta’ala, termasuk ketidakmampuan kita untuk menangkap sebuah hakikat dari sesuatu yang ada; seperti hakikat cinta misalnya. Banyak sekali orang yang menjelaskan tentang hakikat sebuah cinta. Saling melahirkan sebuah definisi dan deskripsi te...

Catatan Pesma #8

Hari berganti, musim pun berubah. Masa yang telah berlalu semakin jauh aku tinggalkan. Jauh. Masa depan yang belum terlihat nampak sama saja– jauh . Itu lah sebagian hal gaib yang patut disepakati. Aku tidak berhasil menangkap dengan sempurna kilatan-kilatan tentang masa lalu dan apalagi masa yang akan datang. Semuanya terbilang indah di masa lalu, kata mereka. Namun masa depan sangat lah penting untuk ku, kata mereka juga. Mendengarkan perkataan orang lain sangatlah penting, namun pilihan tetap pada diri sendiri. Terlalu mendengarkan dan menuruti perkataan orang lain justru itu lah penyebab dari sebuah masalah. Jadi, hari ini hanyalah milik diriku, dan aku hanya hidup untuk hari ini, aku tidak akan menunda kebaikan apa pun, karena hari esok sebuah misteri. Perkataan yang baik akan aku terima, tidak berlaku jika itu hal yang buruk bagi ku. Perkataan seseorang yang baik akan aku gunakan dalam perjuangan ku hari ini. Hari kemarin sudah lah terkunci di dalam sebuah peti baja dengan ra...