Malam ini, rasa gembira menyelimuti hampir seluruh mahasiswa, terutama bagi kami mahasiswa yang tinggal di asrama. Waktu sangatlah singkat & tak terasa satu semester telah kami lalui bersama, terlalu sibuk serta padatnya kegiatan sehingga kami merasa semuanya begitu cepat. Ujian akhir semester telah usai beberapa jam yang lalu, dan malam ini kami berkumpul di aula untuk mendengarkan nasihat-nasihat dari para pengajar sebelum liburan itu resmi kami dapatkan. Sebuah acara yang rutin dilaksanakan beberapa orang menjawab demikian setelah aku bertanya kepada mereka yang telah lama satu tahun diatas ku.
Acara yang cukup ramai bagi kami, ditambah makan bersama yang menunya sangatlah nikmat. Suasana malam ini begitu hangat, karena kami makan seperti biasa; setiap nampan dikelilingi lima orang.
"Wah, coba setiap hari kita makan seperti ini!" Ali bersemangat tatkala melihat isi nampan.
"Eh, Ali! Katanya ente engga suka ikan gurame ya? Jadi, ikannya buat ane aja ya?! Hehehe.'' Behar menggoda kawannya.
"YEEH! IYA. ENGGA SUKA KALO MENTAH... HAHAHA"
"Jangan kata ikan, Beh. Laron digoreng terus dibumbuin juga doyan dia hahaha." Aku menambahkan.
"Astaghfirullah! Emangnya ane cicek apa-_- yang sukanya makan laron. Parah!" Jawabnya lesu.
"Wahahahaha!" Suara kami serentak tanpa komando, melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Ali.
Setelah acara berlangsung dan makan-makan sebagai penutupnya, dengan perut yang sudah padat dan mata mulai mengantuk beserta hati gembira karena mulai besok & dua minggu kedepan kami tidak akan melaksanakan kuliah seperti biasa alias liburan. Yeah!
Namun, yang perlu diketahui oleh semua mahasiswa adalah, meski liburan telah resmi didapat mereka justru malah kebingungan akan berlibur dimana? berlibur dengan siapa? karena rata-rata dari mereka adalah perantau yang berasal dari pelosok-pelosok nusantara. Jauh dari orang tua, juga saudara. Jadi, daripada mereka pulang ke kampung yang ongkosnya saja sudah luar biasa mahalnya sekaligus liburan disana tidak mungkin genap dua minggu, mereka bergerilya kesana-kemari mencari kawan yang bisa diajak untuk berlibur bahkan sebagian ada yang tinggal di asrama, untuk apa? itu rahasia! hehe.
*
Setelah sholat subuh, masjid begitu hening. Hari pertama libur, bukan berarti kami tidak mengulang hafalan, namun hanya saja hari ini kebanyakan dari kami mulai berkemas untuk persiapan pulang, ada yang beres-beres pakaian, merapihkan buku-buku, menyapu lantai asrama, mengepel di kamar, ada yang memasak untuk kami sarapan, bahkan ada yang sempat-sempatnya tertidur pulas tanpa pernah menyadari keadaan sekitar yang dipadati dengan hiruk pikuk kegiatan mahasiswa pada hari pertama liburan sebelum bergegas pulang; bagi yang pulang.
Harris sudah bersiap untuk pergi, seperti orang yang akan pergi jauh dan akan meninggalkan kami begitu lama, aku bisa menebak dari cara ia berpenampilan hari ini. Aku melihat ia sedang membereskan beberapa buku untuk dimasukkan kedalam kotak miliknya, ketika itu mata ku baru saja terbuka. Aku baru siuman. Ku lihat jam alarm mungil itu menunjukan pukul delapan kurang lima menit. Tersadar, ternyata aku masih mengantuk meski aku sudah bangun sebelumnya.
"Kamu mau kemana, Ris?" Tanya ku, meski kedua bola mata ku enggan menatap.
"Pulang dong, Ki!"
"Hmm... kemana? ke Bogor ya?"
"Iya, Ki. Ikut aku yuk ke Bogor!"
"Hehe, terimakasih atas tawarannya. Lain kali aja deh, aku kesana, Ris."
"Ki, aku udah siap nih! Pamit dulu ya, sampai ketemu lagi nanti setelah liburan, hehehe. Assalamualaikum!!" Dengan tas besarnya dan jaket tebal ia mencoba meraih tangan ku untuk kemudian bersalaman dengan ku.
"Waalaikumsallam... Hati-hati di jalan ya, Ris. Awas! Banyak harim dimana-mana, hehehe"
"Ah, kamu bisa aja Ki! Ada juga kamu yang harus berhati-hati nanti pas liburan sama temen-temen lama kamu!"
"Loh, hati-hati kenapa?"
"Ya, hati-hati aja. Sekarang kan temen-temen lama kamu udah punya jalan hidupnya masing-masing otomatis engga akan sama lagi seperti dulu bukan?"
"Hmm.." Aku memlilih merenungkan pernyataannya.
"Yaudah, aku berangkat ya! Jaga diri, selama liburan."
Tangannya menepak-nepak pundak ku, dengan jaket melekat di badannya kemudian ia pergi membawa tas yang besar itu.
Entah apa yang sedang aku pikirkan sekarang. Yang jelas, pernyataan Haris seolah telah menggubris jiwa ku yang tengah asyik terlelap, dan sekarang? Jiwa itu terbangun oleh pernyataannya tadi. Apakah kalian juga tengah memikirkan pernyataan Harris?
Sempat terpikir, apakah selama ini aku tidak pernah menjaga diri ku dengan baik? Bahkan, sampai saat ini aku tengah memikirkan hal tersebut. Apa aku ini telah menjaga diri ku sendiri?
Sampai bertemu kembali, Harris!
Komentar
Posting Komentar