![]() |
| 25 Januari 2018: Perpustakaan Nasional RI |
Udara pagi yang merangsak masuk melalui celah-celah jendela kamar. Rumah yang tak begitu luas dan lebar, namun mampu menampung satu keluarga: kedua orang tua, serta tiga orang anaknya yang menjadi sebuah harapan. Tambun, adalah desa yang cocok bagi mereka untuk melanjutkan hiruk pikuk kehidupan yang kompleks disana. Suara kereta yang sedang melintas, disaat pagi begitu jelas terdengar. Mungkin, ini lah sebagian dari kemurnian kehidupan di pinggiran Ibu Kota: Subuh kala itu masih begitu sunyi, suara kereta melintas dan udara pagi yang lumayan sejuk. Lumayan.
Pemuda yang tumbuh di pinggiran ibu kota, ia pernah menjadi ketua kelas selama 3 tahun berturut-turut ketika masih bersekolah di SMA (ini adalah sebuah prestasi terbaiknya ''?'') pernah ikut study tour ke kebun teh, dan ia tak pernah merasa terpaksa jika ada yang memberinya sepotong roti atau seseorang yang meminta bantuan kepadanya. Ia juga sejenis pemuda yang tidak akan melupakan kebaikan-kebaikan temannya, meski sebagian temannya telah melupakan keberadaannya saat ini.
Matanya sudah terbangun sebelum adzan subuh dikumandangkan. Kendati, ia telah menyelesaikan pakaian yang ia setrika sejak tadi. Karena sebelumnya ia paham, bahwa pagi ini jadwal kegiatannya begitu padat. Padat?
Menyetrika pakaian yang akan ia pakai adalah sebuah pelaksanaan yang tepat untuk mengawali kesibukannya hari ini. Keinginannya yang kuat pada satu hal menjadikan ia sebagai pemuda yang sangat bersungguh-sungguh dalam menggapai apa yang ingin digapainya. Jauh sebelum hari dimana saat ini ia tengah terbangun dan mengerjakan suatu hal, ia ingin sekali mengunjungi suatu tempat. Tempat yang selalu didambakannya belakangan ini. Adalah Perpustakaan Nasional.
Entah apa yang membawa jiwanya ingin ke tempat tersebut. Tepatnya, pemuda itu pasti memiliki maksud tertentu yang terkadang tidak diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Maksud apakah itu? Tanyakan saja kepadanya! :)
Sebelum keberangkatannya menuju tempat yang ia ingini. Pemuda itu harus melayani beberapa anggota keluarganya seperti; mengantarkan ibunya ke stasiun supaya tidak telat bekerja, lalu mengulangi hal tersebut, namun kali ini ia dengan seorang kakak perempuannya, merapihkan rumah, dan macam-macam hal yang bermanfaat yang bisa ia kerjakan selagi ia mampu. Itu merupakan salah satu mottonya. Dan tidak ingin orang yang ia cintai kecewa karena ulah dirinya. Bagian ini adalah hal yang dibenci si pemuda itu. Apakah kamu pernah dikecewakan olehnya? Jika iya, dia tidak pernah mengharapkan hal itu terjadi dan tidak pernah bermaksud seperti itu kepada siapa pun. Karena ia mencintai. Tidak bermaksud melukai. Loh kok?
Setelah melalui beberapa proses. Ia pun bisa memulai perjalanannya menuju Perpustakaan Nasional di Jakarta. Kali ini, ia ditemani oleh seorang kawan lamanya yang dahulu pernah sekelas saat duduk di bangku SMA. Baginya, tidak penting siapa yang menemaninya pergi ke tempat itu. Hal yang utama, bagaimana ia bisa membuat orang yang menemaninya itu nyaman dengannya. Dan betul saja, hal tersebut telah terwujud.
Temannya hanya mengetahui sedikit saja, tentang mengapa si pemuda ini ingin ke tempat yang saat ini mereka berdua kunjungi. Mungkin, karena si pemuda itu hanya sekedar mengusir kebosanan saja pikirnya. Justru, lebih dari itu, hanya Allah kemudian si pemuda itu yang mengetahui apa alasan dirinya pergi ke tempat itu.
Satu hal yang dapat diterima oleh akal sehat. Si pemuda itu tak pernah ingin membuat orang lain atau siapa pun kecewa. Mengapa? Mungkin, ini adalah salah satu alasan mengapa ia pergi ke tempat itu; Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Yang didalamnya tidak terdengar suara kekecewaan dan rintihan kegelisahan. Jika anda bingung, pergilah kesana! lalu buktikan!
Selamat berkunjung!

Komentar
Posting Komentar