Langsung ke konten utama

Postingan

Mungkin Saja Berakhir

Sebuah kisah mungkin saja berakhir dengan tangisan. Betapa menikmatinya seorang yang masuk ke dalam kisah itu. Setiap konflik ia lewati dengan penuh perasaan. Watak yang tidak tergantikan antara si antagonis dan protagonis, keduanya tetap abadi tidak terbatas akhir kisahnya. Boleh saja aku mengatakan sebuah kisah mungkin saja berakhir. Tapi di seberang sana, ada orang yang rela menanti kelanjutan kisah ini. Betapa hancurnya hati dia yang sudah berharap, padahal aku anggap telah usai. Boleh juga jika dia ingin mengatakan sebuah kisah mungkin saja berakhir jika aku kembali memerankan tokoh pemenang. Atau boleh saja sebuah kisah mungkin saja berakhir jika dia sudah putus asa dengan penantian. Mungkin saja berakhir, dua orang yang kembali pulang kemudian mengunci pintu rumahnya setelah seharian mereka saling menunggu kabar. Berdoa semoga esok hari kenyataan pahit dan luka itu mungkin saja berakhir. Di sekitar Bekasi, Kira-kira pukul 2 dinihari, hari ke-27 di tahun 2020.

Alles Komt Goed

Aku menatap awan-awan berkeliaran terseret embusan angin Di tepi pantai, deburan ombak memecah kecemburuan Nelayan mulai pergi melaut memburu kebahagiaan Belahan jiwa dan buah hati menunggu ceria di surga kecil miliknya Aku masih tetap memandangi awan-awan, sekarang aku sendirian Mereka tau, aku pasti cemburu Tidak bisa ikut bersamanya Di hari yang paling indah—untuknya Aku sebal, awan-awan itu mengira aku cemburu Perhatikanlah, aku  hanya sedang menikmati tersiksa oleh derasnya rindu "Alles komt goed" —November Hasil terjemah ke bahasa Belanda : Ik keek naar de wolken die in de wind dwaalden Op het strand breken de golven jaloezie Vissers begonnen te vissen op geluk Zielsverwanten en kinderen wachten gelukkig in zijn kleine paradijs Ik staarde nog steeds naar de wolken, nu was ik alleen Ze weten dat ik jaloers moet zijn Ik kan niet met hem meegaan Op de mooiste dag - voor haar Ik ergerde me, de wolken dachten dat ik jaloers was Kijk, ik vind het gewo...

Catatan (akhir) Pesma #14

4 semester telah berlalu. Waktu memaksa untuk terus berputar sehingga diriku terbius oleh singkatnya hari demi hari yang telah kulewati. Selama 2 tahun pula aku telah tinggal di sebuah tempat yang kami sepakati bersama dengan sebutan asrama. Setelah melihat papan pengumuman di lobby kampus, bahwa diriku dinyatakan lulus dan bisa melanjutkan ke semester 5. Hati tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur kepada Allah. Namun di sisi lain, hal ini juga sudah secara otomatis untuk semua mahasiswa yang lulus ke semester 5 harus meninggalkan asramanya. Artinya, kisah yang telah terjadi di asrama akan selalu dikenang oleh setiap penghuninya, termasuk aku. Entah kisah yang menyedihkan, menyebalkan, atau menyenangkan dalam hati akan siap dibungkus dalam setiap benak kita masing-masing. Sudah waktunya kita semua bergegas untuk tidak lagi tinggal di sebuah tempat yang telah habis masa berlakunya. Meski begitu, aku akan selalu berupaya untuk tidak melupakan kebaikan-kebaikan kalian; kawan-kawan sem...

Puisi Karya Zeffry J. Alkatiri

Masuk Kota 1949 SEPERTI DIKISAHKAN OLEH SEORANG SAKSI MATA Sudah kami persiapkan Sejak kemarin Kembang, bendera, dan selendang Untuk pemuda pejuang Dari Kerawang dan Tanggerang Dalam konvoi mungkin masih ada Jono, Idrus, Suratman, dan Bachtiar. Saudara, teman, dan tetangga kita Yang kini menjadi gondrong, dekil, dan lusuh Padahal dahulu mereka necis dan parlente Semua sudah tergadai, saat nica mengetuk pintu. Sudah kami persiapkan Sejak kemarin Nyanyian dan lencana Yang tak sempat tersematkan Dan tak sempat didengarkan Percuma, Sebab mereka keburu menghilang memburu Hiburan, perempuan, harta rampasan, dan perumahan. Di kawasan Menteng, Matraman, dan Tanah Abang. Kami hanya bersorak sesaat di Kramat. Mencari wajah yang tak lagi dapat dikenali. Seperti gedebong hanyut, Rombongan terdiam pulang. Sambil menenteng kembang layu Untuk dibuang! 1999

Catatan Pesma #13

4 Mei "Ini ongkosnya! Abang udah makan belum? Kalo belum, makan dulu ya," kata ibuku seraya menutup tas kerjanya dan langsung bergegas pergi. Sejenak aku melihat lembaran uang yang sekarang kupegang. Mesin motor kubiarkan menyala. Aku tidak langsung pergi ke rumah untuk kembali. Pagi ini aku memikirkan sesuatu di depan stasiun Tambun. Beberapa orang di sekitar tidak sempat aku pedulikan. Seharusnya aku tidak lagi meminta uang kepada orangtuaku! Hanya ungkapan dari dalam hati nuraniku. Mengingat aku bersyukur kedua orang tuaku detik ini masih hidup bersama di dunia ini. Namun, secara fisik mereka berdua sudah semakin lemah. Dan aku masih belum bisa lepas dari meminta kepada keduanya. Tapi aku yakin, suatu saat aku pasti bisa memberi kepada keduanya, bahkan kepada setiap orang yang butuh. Aku yakin! Setelah mengantarkan ibuku ke stasiun untuk menaiki kereta ke arah tempat kerjanya, aku putuskan kembali ke rumah meski beberapa saat hanya memandangi uang yang diber...

Catatan Pesma #12

Selepas shalat jumat aku berkumpul dengan kawan-kawanku di pelataran Masjid, diketuai oleh teman sekelasku juga. Ia bertindak sebagai ketua pelaksana dalam kegiatan yang akan kami selenggarakan nanti, insya Allah. Masing-masing ketua seksi mulai memaparkan rencananya kepada si ketua. Kami menjadi saling mendengarkan satu sama lain. Dibarengi candaan khas mahasiswa , membuat suasana kurang begitu serius. Ya, inilah rapat yang sebenarnya! Aku pikir tidak beda jauh juga suasana rapat di gedung yang megah di parlemen sana, penuh candaan? Hehe Bukan suasana rapat yang ingin aku lontarkan sebetulnya. Tapi, sebuah perjalanan yang cukup membuat tenaga dan pikiranku dan Dimas terkuras hampir habis. Mengapa? Karena, setelah rapat usai, aku dan Dimas diutus untuk menemui percetakan yang ada di Jakarta, tepatnya percetakan yang paling murah demi kelancaran rencana kita bersama, sebagaimana hasil rapat tadi. Tidak butuh waktu lama. Aku dan Dimas langsung bersiap-siap ke asrama menyiapkan...

Sajak Pria Tua di Bangku Halte Sore Hari

I/VII Hari mengubah udara menjadi dingin Bulan begitu cepat berlalu, pasca tragedi itu Mencium aroma kopi hangat di meja teras beranda Janji-janji berhamburan keluar seperti biri-biri Pria tua itu duduk lesu di bangku halte sore hari II/VII Kamar mandi kering tak ada yang bermandi Dua pekan lebih, air mata selalu mendidih Jarak ibu kota menjadi dekat dicumbu arah Melihat sepatu 'besi' di jalan sabang setiap hari Si Nenek sabar menunggu belahan hati dan duduk di taman suropati III/VII Tukang roti menjemput padi : pagi, siang hingga malam hari Tubuh lemah dibalut minyak dilabeli kasturi Jalan aspal hitam selalu di injak-injak dengan amarah Warna tubuh dan matamu tiba-tiba menyapaku Hujan, tak berarti bagi sepasang hati yang ingin berlari IV/VII Gunung merapi lelah berkonsentrasi Pedagang bakpao menyapa sultan tanpa basa-basi Tumpahan air bunga mendarat di tempat darah para pujangga Lidah kelu tidak tau cara menyapa waktu Gelapnya hari tanda hujan menggi...