Langsung ke konten utama

Postingan

Satu Harapan

Bergerak lah sebebas yang kamu mau Berlari lah sejauh kamu mau Bersenang-senang lah sesuai yang kamu mau Tertawa lah dan jangan hiraukan orang lain di sekitar mu Berkata dan berbuat lah apa yang kamu mau Lakukan saja, bukan kah dunia ini adalah kebebasan untuk mu? Dan, menangis lah sejadi-jadinya ketika apa yang kamu mau tidak pernah bisa ada dihadapan mu. Apapun itu. Ingatlah hal ini : Apakah kamu mengira 'gerakan' kamu adalah kehendak mu sendiri? Apakah kamu berpikir kamu bisa menghindar dan berlari sejauh mata memandang? Apa kamu kira dengan bersenang-senang lalu tertawa seolah hidup hanya untuk hal itu? Mungkinkah kamu berbicara tapi untuk hal yang sia-sia? Kamu berlari ketika aku tertindas Kamu tega menertawakan aku, padahal aku bukan bahan olok-olokan, bukan? Kamu dan aku sama Kamu bicara tentang hal yang belum kamu tahu pasti, namun seolah penampilan ku adalah sesuatu yang radikal ? Jika boleh berharap. Yang aku harapkan hanya lah kamu dan seluruh kam...

Catatan Pesma #7

Tetesan air dari langit berjatuhan sangat deras. Kali ini, udara dingin lah yang mendominasi. Pukul 14.23 waktu di sebelah barat Nusantara seingat aku kala itu. Dari balik jendela lobby gedung yang tinggi, aku melihat untuk pertama kalinya seseorang datang. Berjalan cepat membelah hujan tanpa pakai mantel khusus musim penghujan. Tak perlu ditanyakan lagi basah di badannya. Dan tak membuat aku heran sesampainya ia ke tempat teduh langsung menggigil kedinginan. * "Bu! Besok abang mau berangkat ke asrama." "Loh, engga jadi nanti sore?" Dengan heran wanita yang akrab di panggil dengan sebutan ibu itu menjawab pertanyaan anaknya. "Engga jadi, Bu. Abang masih mau tidur di sini semalam lagi! Boleh kan Bu?" "Ya tentu boleh dong! Asal kamu engga melanggar aturan saja" Ibunya penuh kekhawatiran. "Nanti malam kan engga ada acara apa-apa di asrama, kuliah juga belum mulai." "Ya sudah. Ibu engga ikut campur kalau nanti kamu tern...

Perpustakaan Nasional RI

25 Januari 2018: Perpustakaan Nasional RI Pagi itu. Sebagian warga Bekasi baru saja menunaikan sholat subuh, beberapa pengemudi kendaraan bermotor mulai memadati jalanan. Entah karena urusan pekerjaan, pendidikan, perekonomian, atau urusan dunia lainnya yang terlanjur menjadi alasan mereka untuk berada diatas jalan saat pagi menjelang. Entah lah, itu adalah urusan yang rumit sepertinya? Udara pagi yang merangsak masuk melalui celah-celah jendela kamar. Rumah yang tak begitu luas dan lebar, namun mampu menampung satu keluarga: kedua orang tua, serta tiga orang anaknya yang menjadi sebuah harapan. Tambun, adalah desa yang cocok bagi mereka untuk melanjutkan hiruk pikuk kehidupan yang kompleks disana. Suara kereta yang sedang melintas, disaat pagi begitu jelas terdengar. Mungkin, ini lah sebagian dari kemurnian kehidupan di pinggiran Ibu Kota: Subuh kala itu masih begitu sunyi, suara kereta melintas dan udara pagi yang lumayan sejuk. Lumayan . Pemuda yang tumbuh di pinggiran ibu k...

Tan Ek Tjoan; 2018

Roti Tan Ek Tjoan sejak 1921 Hallo, kawan ku! siapa pun anda yang sedang membaca blog ini, mau tidak mau, suka tidak suka, mulai saat ini anda telah resmi menjadi kawan saya. Setuju? (Setuju!) Ada yang tau enggak? Roti dengan merek 'TAN EK TJOAN' ? Atau ada yang sudah pernah makan roti ini? Atau mungkin, kalian adalah salah satu penggemar roti ini? Kali ini, saya akan berbagi informasi tentang makanan yang satu ini. Makanan yang terbuat dari adonan tepung ini memang sudah populer sejak jaman dahulu. Terutama di negara-negara eropa sana, yang sudah menjadi makanan sehari-hari warganya. Nah, kawan-kawan mesti tau loh... ternyata di Indonesia ada roti yang usianya sangat tua! salah satunya adalah roti  Tan Ek Tjoan ini, kawan!  "Tan Ek Tjoan adalah salah satu merek roti tertua di Indonesia. Pendirinya, yang namanya dijadikan merek produk, Tan Ek Tjoan, adalah seorang pemuda keturunan Tionghoa. Dia merintis usaha ini di daerah Surya Kencana, Bogor pada 1921. Sejak ...

Catatan Pesma #6

Malam ini, rasa gembira menyelimuti hampir seluruh mahasiswa, terutama bagi kami mahasiswa yang tinggal di asrama. Waktu sangatlah singkat & tak terasa satu semester telah kami lalui bersama, terlalu sibuk serta padatnya kegiatan sehingga kami merasa semuanya begitu cepat. Ujian akhir semester telah usai beberapa jam yang lalu, dan malam ini kami berkumpul di aula untuk mendengarkan nasihat-nasihat dari para pengajar sebelum liburan itu resmi kami dapatkan. Sebuah acara yang rutin dilaksanakan beberapa orang menjawab demikian setelah aku bertanya kepada mereka yang telah lama satu tahun diatas ku. Acara yang cukup ramai bagi kami, ditambah makan bersama yang menunya sangatlah nikmat. Suasana malam ini begitu hangat, karena kami makan seperti biasa; setiap nampan dikelilingi lima orang. "Wah, coba setiap hari kita makan seperti ini!" Ali bersemangat tatkala melihat isi nampan. "Eh, Ali! Katanya ente engga suka ikan gurame ya? Jadi, ikannya buat ane aja ya?! Heheh...

Koma di Akhir Kalimat

(Foto : M. Ramdhan, kawan di kampus)  senja bertiup ke arah ia ingin. Pepohonan mendayu-dayu dan menyanyikan lagunya bersama daunnya yang terus berguguran jatuh ke permukaan bumi. 15 menit yang lalu tepat jam 4 sore, hari ini aku seperti biasanya. Menunaikan seluruh tuntutan rutinitas ku. Dan, waktu terus berjalan serta tidak pernah datang untuk kembali, walau aku minta satu detik pun. Waktu tidak pernah datang kembali ke belakang, dan aku percaya hal ini sebagaimana aku percaya bahwa dirimu datang dengan dorongan waktu. Dirimu? Aku tidak sedang berdialog dengan seseorang, entah itu lelaki maupun lawan jenisnya. Tidak. Dirimu, yang aku maksud adalah diriku sendiri. Jikalau ada seseorang membaca tulisan ini, aku harap ia tidak bingung dan menganggap aneh. Atau aku dan dirimu memanglah aneh. Entah? Aku tidak pernah mengerti bagaimana awal mulanya bumi ini diciptakan? Berawal dari ledakan yang sangat hebat kah? Oh sayang, aku tidak ingin ikut pendapat tersebut. Yang aku...

Catatan Pesma #5

"Udah malem Beh! Tidur yuk!" pinta ku kepadanya dengan mata yang sudah berat. "Kalo ente ngantuk tidur duluan aja, ane belom ngantuk Ki." * Hanya kalimat itu yang terakir aku dengar dari mulutnya. Malam itu kami berdua baru saja pulang ke asrama tempat kami menetap, sekitar pukul 01.00 waktu Indonesia bagian barat. Aku lelah sekali, ternyata acara kampus begitu padatnya hingga kami harus pulang larut malam. Acara bulanan ini memang hukumnya wajib diikuti bagi seluruh mahasiswa asrama, termasuk kami berdua. Acara yang bertajuk ' Lailatul Arabiyah ' memang sangat menarik dan unik, terutama bagi kami yang belum pernah mengikuti acara tersebut. Sampai kami pulang larut malam, karena mengikuti rangkaian acara dari awal sampai penutup. Seru! Aku berjalan disamping kawanku, Behar. Seusai acara, kami langsung bergegas menuju asrama karena sudah lelah sekali dan ingin segara menyimpan sendi-sendi kami diatas kasur. "Oiya Beh! Besok kan ada t...