Langsung ke konten utama

Postingan

Fase labil putih biru

Dahulu aku pernah berkata. Aku menyukai. Aku kamu ingini. Kamu hanya akan denganku. Dahulu aku mengira. Dunia mudah aku kendalikan. Angin bisa aku hentikan. Dan cinta sesuai dugaan. Supaya kamu menebar senyuman.... I Ha ha! Kebodohan adalah pintu sebuah penyesalan Dahulu aku bermain dan berdansa dengan semua jenis kebodohan Sampai terperangkap di dalam sebuah gudang penistaan Karenanya, kamu aku kenal melalui fase pergaulan II Jiwa muda jiwa tak kenal lelah sekaligus buta arah Dahulu aku merasa tenang untuk kesana, ternyata sadar itu adalah salah Mungkin aku menanam benih janji di depan halaman rumahmu Yang ternyata, kamu dapati tak pernah tumbuh hingga saat ini meski kamu terus menunggu dan menyiraminya dengan harapan disertai dengan pupuk kerinduan Kamu ingin kepastian III Angin menggiring jiwaku menuju arah kedewasaan Aku tahu, dahulu kita ingin menyatu Seperti buku-buku yang telah berpadu Namun, itu semua hanyalah warna yang semu Dan akhirnya, kamu menutup ...

Pacaran Islami

(a pict shoot by Fujica M1 with Kodak Gold 200) Wahai, saudara dan saudariku seiman dan seakidah! Mencintai Allah dan Rasul-Nya merupakan kewajiban setiap insan yang beriman dan bertaqwa. Bahkan rasa cinta kita kepada rasul pun harus lebih besar daripada kecintaan kita kepada ibu kita sendiri, bukan? Apalagi, kecintaan kita kepada Sang Maha Pencipta jagat raya ini, harus melebihi kecintaan kita dari segala apa pun termasuk diri kita sendiri. Karena sholat kita, pengorbanan kita, hidup kita, dan mati kita hanyalah karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak kepada selain-Nya. Harus kita ketahui bahwasannya kita adalah manusia yang lemah, tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun, kecuali daya dan kekuatan itu diberikan atas ijin Allah subhanahu wa ta’ala, termasuk ketidakmampuan kita untuk menangkap sebuah hakikat dari sesuatu yang ada; seperti hakikat cinta misalnya. Banyak sekali orang yang menjelaskan tentang hakikat sebuah cinta. Saling melahirkan sebuah definisi dan deskripsi te...

Catatan Pesma #8

Hari berganti, musim pun berubah. Masa yang telah berlalu semakin jauh aku tinggalkan. Jauh. Masa depan yang belum terlihat nampak sama saja– jauh . Itu lah sebagian hal gaib yang patut disepakati. Aku tidak berhasil menangkap dengan sempurna kilatan-kilatan tentang masa lalu dan apalagi masa yang akan datang. Semuanya terbilang indah di masa lalu, kata mereka. Namun masa depan sangat lah penting untuk ku, kata mereka juga. Mendengarkan perkataan orang lain sangatlah penting, namun pilihan tetap pada diri sendiri. Terlalu mendengarkan dan menuruti perkataan orang lain justru itu lah penyebab dari sebuah masalah. Jadi, hari ini hanyalah milik diriku, dan aku hanya hidup untuk hari ini, aku tidak akan menunda kebaikan apa pun, karena hari esok sebuah misteri. Perkataan yang baik akan aku terima, tidak berlaku jika itu hal yang buruk bagi ku. Perkataan seseorang yang baik akan aku gunakan dalam perjuangan ku hari ini. Hari kemarin sudah lah terkunci di dalam sebuah peti baja dengan ra...

Terbit

Dirimu kadang ditunggu-tunggu Terkadang dirundung sendu Hati ku membeku Menjawab pertanyaan, dimana kamu? Malam demi malam. Selalu berbeda dengan malam sebelum, sekarang, dan selanjutnya. Mengapa? oh, seharusnya jangan tanya mengapa karena itu tidak penting. Lebih tepat tanyakan, bagaimana? bagaimana seseorang menjalani hidupnya malam demi malam, sementara ia selalu menunggu pagi hari? bagaimana seseorang menjalani mimpi-mimpinya sementara ia tertidur di sore hari? bagimana seseorang mencintai waktu fajar, sedangkan dia lebih senang bersama puncak malam hari? Tidak aneh? mungkin kata-kata ini dapat menafsirkan perasaan yang ingin terbit di sebuah pedesaan yang terletak di balik gunung paling timur nusantara. Perasaan yang seharusnya terbit dan bersinar menerangi gelapnya desa nan abu, menghangatkan kampung yang beku, mencerahkan hati yang sedikit keliru tentang rindu. Rindu? Kata itu, sudah lama tidak terdengar oleh telinga ini, sudah lama tidak terbaca oleh mulut kasar ini. Han...

Satu Harapan

Bergerak lah sebebas yang kamu mau Berlari lah sejauh kamu mau Bersenang-senang lah sesuai yang kamu mau Tertawa lah dan jangan hiraukan orang lain di sekitar mu Berkata dan berbuat lah apa yang kamu mau Lakukan saja, bukan kah dunia ini adalah kebebasan untuk mu? Dan, menangis lah sejadi-jadinya ketika apa yang kamu mau tidak pernah bisa ada dihadapan mu. Apapun itu. Ingatlah hal ini : Apakah kamu mengira 'gerakan' kamu adalah kehendak mu sendiri? Apakah kamu berpikir kamu bisa menghindar dan berlari sejauh mata memandang? Apa kamu kira dengan bersenang-senang lalu tertawa seolah hidup hanya untuk hal itu? Mungkinkah kamu berbicara tapi untuk hal yang sia-sia? Kamu berlari ketika aku tertindas Kamu tega menertawakan aku, padahal aku bukan bahan olok-olokan, bukan? Kamu dan aku sama Kamu bicara tentang hal yang belum kamu tahu pasti, namun seolah penampilan ku adalah sesuatu yang radikal ? Jika boleh berharap. Yang aku harapkan hanya lah kamu dan seluruh kam...

Catatan Pesma #7

Tetesan air dari langit berjatuhan sangat deras. Kali ini, udara dingin lah yang mendominasi. Pukul 14.23 waktu di sebelah barat Nusantara seingat aku kala itu. Dari balik jendela lobby gedung yang tinggi, aku melihat untuk pertama kalinya seseorang datang. Berjalan cepat membelah hujan tanpa pakai mantel khusus musim penghujan. Tak perlu ditanyakan lagi basah di badannya. Dan tak membuat aku heran sesampainya ia ke tempat teduh langsung menggigil kedinginan. * "Bu! Besok abang mau berangkat ke asrama." "Loh, engga jadi nanti sore?" Dengan heran wanita yang akrab di panggil dengan sebutan ibu itu menjawab pertanyaan anaknya. "Engga jadi, Bu. Abang masih mau tidur di sini semalam lagi! Boleh kan Bu?" "Ya tentu boleh dong! Asal kamu engga melanggar aturan saja" Ibunya penuh kekhawatiran. "Nanti malam kan engga ada acara apa-apa di asrama, kuliah juga belum mulai." "Ya sudah. Ibu engga ikut campur kalau nanti kamu tern...

Perpustakaan Nasional RI

25 Januari 2018: Perpustakaan Nasional RI Pagi itu. Sebagian warga Bekasi baru saja menunaikan sholat subuh, beberapa pengemudi kendaraan bermotor mulai memadati jalanan. Entah karena urusan pekerjaan, pendidikan, perekonomian, atau urusan dunia lainnya yang terlanjur menjadi alasan mereka untuk berada diatas jalan saat pagi menjelang. Entah lah, itu adalah urusan yang rumit sepertinya? Udara pagi yang merangsak masuk melalui celah-celah jendela kamar. Rumah yang tak begitu luas dan lebar, namun mampu menampung satu keluarga: kedua orang tua, serta tiga orang anaknya yang menjadi sebuah harapan. Tambun, adalah desa yang cocok bagi mereka untuk melanjutkan hiruk pikuk kehidupan yang kompleks disana. Suara kereta yang sedang melintas, disaat pagi begitu jelas terdengar. Mungkin, ini lah sebagian dari kemurnian kehidupan di pinggiran Ibu Kota: Subuh kala itu masih begitu sunyi, suara kereta melintas dan udara pagi yang lumayan sejuk. Lumayan . Pemuda yang tumbuh di pinggiran ibu k...