Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Pesma #13

4 Mei "Ini ongkosnya! Abang udah makan belum? Kalo belum, makan dulu ya," kata ibuku seraya menutup tas kerjanya dan langsung bergegas pergi. Sejenak aku melihat lembaran uang yang sekarang kupegang. Mesin motor kubiarkan menyala. Aku tidak langsung pergi ke rumah untuk kembali. Pagi ini aku memikirkan sesuatu di depan stasiun Tambun. Beberapa orang di sekitar tidak sempat aku pedulikan. Seharusnya aku tidak lagi meminta uang kepada orangtuaku! Hanya ungkapan dari dalam hati nuraniku. Mengingat aku bersyukur kedua orang tuaku detik ini masih hidup bersama di dunia ini. Namun, secara fisik mereka berdua sudah semakin lemah. Dan aku masih belum bisa lepas dari meminta kepada keduanya. Tapi aku yakin, suatu saat aku pasti bisa memberi kepada keduanya, bahkan kepada setiap orang yang butuh. Aku yakin! Setelah mengantarkan ibuku ke stasiun untuk menaiki kereta ke arah tempat kerjanya, aku putuskan kembali ke rumah meski beberapa saat hanya memandangi uang yang diber...

Catatan Pesma #12

Selepas shalat jumat aku berkumpul dengan kawan-kawanku di pelataran Masjid, diketuai oleh teman sekelasku juga. Ia bertindak sebagai ketua pelaksana dalam kegiatan yang akan kami selenggarakan nanti, insya Allah. Masing-masing ketua seksi mulai memaparkan rencananya kepada si ketua. Kami menjadi saling mendengarkan satu sama lain. Dibarengi candaan khas mahasiswa , membuat suasana kurang begitu serius. Ya, inilah rapat yang sebenarnya! Aku pikir tidak beda jauh juga suasana rapat di gedung yang megah di parlemen sana, penuh candaan? Hehe Bukan suasana rapat yang ingin aku lontarkan sebetulnya. Tapi, sebuah perjalanan yang cukup membuat tenaga dan pikiranku dan Dimas terkuras hampir habis. Mengapa? Karena, setelah rapat usai, aku dan Dimas diutus untuk menemui percetakan yang ada di Jakarta, tepatnya percetakan yang paling murah demi kelancaran rencana kita bersama, sebagaimana hasil rapat tadi. Tidak butuh waktu lama. Aku dan Dimas langsung bersiap-siap ke asrama menyiapkan...

Sajak Pria Tua di Bangku Halte Sore Hari

I/VII Hari mengubah udara menjadi dingin Bulan begitu cepat berlalu, pasca tragedi itu Mencium aroma kopi hangat di meja teras beranda Janji-janji berhamburan keluar seperti biri-biri Pria tua itu duduk lesu di bangku halte sore hari II/VII Kamar mandi kering tak ada yang bermandi Dua pekan lebih, air mata selalu mendidih Jarak ibu kota menjadi dekat dicumbu arah Melihat sepatu 'besi' di jalan sabang setiap hari Si Nenek sabar menunggu belahan hati dan duduk di taman suropati III/VII Tukang roti menjemput padi : pagi, siang hingga malam hari Tubuh lemah dibalut minyak dilabeli kasturi Jalan aspal hitam selalu di injak-injak dengan amarah Warna tubuh dan matamu tiba-tiba menyapaku Hujan, tak berarti bagi sepasang hati yang ingin berlari IV/VII Gunung merapi lelah berkonsentrasi Pedagang bakpao menyapa sultan tanpa basa-basi Tumpahan air bunga mendarat di tempat darah para pujangga Lidah kelu tidak tau cara menyapa waktu Gelapnya hari tanda hujan menggi...

Catatan Pesma #11

Menjelang sore hari ini, aku sengaja meluangkan waktu beberapa menit sebelum asar. Hari ini, jadwal kuliah sangatlah padat, UTS di setiap mata kuliah. Namun, hal yang demikian membuat aku dan teman-temanku semakin menambah kenangan di dalam hidup kita masing-masing. Yap, benar sekali kenangan. Sudah lama rasanya aku tidak menulis di papan ketik ini. Sekarang auranya seperti ada yang berbeda. Entah apa yang membuat hal ini begitu beda. [tertawa] Aku hanya ingin bercerita tentang kejadian beberapa waktu yang lalu; seperti sakitnya kawanku Behar sehingga ia terpaksa harus pulang ke rumahnya dalam keadaan sakit, bahkan ia mengendarai sendiri motornya. Seharian aku memikirkan keadaan dirinya, sesekali ingin menelpon dia menggunakan telepon asrama, apakah dia sudah sampai ataukah belum? apakah ini yang dinamakan orang lain 'lebay'? Terserah, Behar adalah kawanku. Atau tidak hadirnya diriku di acara penting Andika. Ia telah resmi menjadi anggota kepolisian sekarang. Aku i...

Tebar Inspirasi Remaja

Sudah hampir 2 tahun aku tidak lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Sebuah bangunan yang menyimpan banyak cerita dan cinta. Aku berjalan menuju gerbang  utama bangunan itu, terlihat beberapa mata anak-anak yang tampak berkilau penuh dengan kerinduan yang sedang bermain di beranda, tatapan mata yang tajam, dan senyuman yang menyimpan potongan pilu membuat mereka tetap tegar untuk hidup dan menggapai mimpi-mimpi itu. Aku menembus aktifitas mereka sehari-hari yang kini sudah menjelang sore hari. Aku bersama beberapa kawan-kawan komunitas telah merencanakan ke tempat ini sejak 2 Minggu yang lalu. Tempat yang menjadi rumah bagi saudara-saudara 'kami' yang notabene mereka semua tanpa orang tua biologis saat ini. Banyak sebab yang menjadikan mereka tidak bisa bersama dengan orang tuanya. Entah itu kematian, ditinggal pergi sejak lahir, atau sengaja dibuang. Agak miris memang. Namun, inilah kenyataan yang mesti mereka hadapi bersama. Bersama kita! Panti asuhan yang terletak di pin...

untitled

Bismillah Segala puji dan syukur hanya tercurah kepada Allah. Tuhan yang menciptakan siang dan malam, pagi dan petang, langit dan bumi, panas dan dingin, gelap dan terang, dan juga Ia yang menciptakan kematian dan kehidupan. Begitu pula dalam penciptaan semua makhlukNya yang berpasang-pasangan. Yang telah mengutus seorang manusia untuk menjadi rahmat di alam dunia ini, dialah Muhammad yang kita selalu bersholawat kepadanya serta mengucapkan salam tanpa ada keraguan.  Malam ini menjadi saksi atas kuasa sang Khaliq, yang telah meniupkan ruh pada jasad manusia semenjak di dalam perut ibunya. Kemudian Dia berkehendak untuk menentukan takdir sebagaimana kelahiran anak manusia yang Dia juga telah tetapkan di dalamnya. Rasa senang bercampur haru turut menyelimuti malamku kali ini. Di sebuah gedung yang kurang aku sukai, peralatan medis yang selalu sinis menyapaku, aroma khas di ruangan IGD yang memaksa hidungku untuk terus menghirupnya, atau seluruh ruangan di bangunan ini meman...

Catatan Pesma #10

Sepertinya musim hujan tahun ini akan mengalami kemunduran dari yang seperti biasanya. Sudah bulan ke-11 di tahun masehi, hujan masih sangat jarang sekali turun, khususnya di tempat aku tinggal saat ini. Terkadang hanya terlihat gumpalan awan yang menjadikan hari mendung tanpa ada kepastian akan turun hujan ataukah tidak? Oh, sudah tentu alam tidak pernah memberikan harapan. Apalagi yang palsu, bukan? (tertawa) Sudah 2 hari ini aku tidak masuk kuliah. Hari ini dan kemarin, menjadi hari yang berat untuk tubuhku melaksanakan tugasnya. Ia tidak kuat berjalan, otot-ototnya lemah, jari-jemarinya tidak berdaya, suhunya pun sangat tinggi, lebih sering ia tertidur lemas di atas pembaringannya, bibirnya kering memucat, dan malamnya dihiasi dengan mengigau mungkin disebabkan suhunya yang sangat tinggi. Bulan November kali ini, aku tidak segagah pada tahun yang lalu; ya, terlalu lemah! Sejak semester 3, aku berpindah ke asrama A. Ini merupakan peraturan dari Pesma, harus bergantian setiap sem...